• Admin
  • Pesan
  • Info Terbaru
  • Peraturan

Yang Terjadi di Indonesia, di Masa Depan!

 


Saya merasa khawatir dengan apa yang akan terjadi pada negara kita ini, mungkin kekhawatiran saya hanya satu dari jumlah penduduk indonesia. indonesia di esa yang sekarang sudah mengalami
berbagai macam kejadian dan peristiwa yang terjadi. Dalam artikel yang saya cari dari berbagai sumber ini semoga bisa menjawab kekhawatiran anda akan masa depan indonesia kelak :
1.Indonesia Sebagai Kekuatan Dunia

"Sebenarnya keadaan Indonesia saat ini juga tidak bisa dibilang buruk dan tanpa kemajuan sama sekali. Tetapi kalau dibandingkan dari berbagai aspek, kita ambil contoh saja dari Gross Domestic Product (GDP) dan pertumbuhannya, Indonesia jelas kalah jauh dibandingkan Cina dan India"


BRIC dan MINT
Pada tahun 2001, dunia mulai membicarakan tentang 4 negara yang diprediksi akan menjelma menjadi kekuatan baru ekonomi dunia : Brazil, Rusia, India, dan Cina (BRIC). Istilah BRIC pertama kali dipopulerkan oleh  Jim O'Neill dari Investment Bank Goldman Sachs dari paper yang berjudul "Building Better Global Economic BRICs”.
Sayangnya “I” dari BRIC merepresentasikan India, bukan Indonesia. Beberapa tahun belakangan, Jim O’Neill memunculkan kembali istilah mengenai 4 negara yang akan segera menyusul menjadi raksasa ekonomi dunia : Meksiko, Indonesia, Nigeria, dan Turki (MINT).
Alasanutama memilih negara-negara dalam BRIC dan MINT adalah perkiraan bahwa kedelapan negara tersebut akan menempati urutan teratas dunia pada tahun 2050 jika diukur dari nilai GDP di luar dari negara-negara maju seperti Amerika Serikat, Eropa, dan Jepang.
Berbagai variabel digunakan sebagai acuan dalam memprediksi pencapaian ekonomi negara-negara BRIC dan MINT. Namun secara umum faktor yang sangat menentukan dipilihnya kedelapan negara tersebut dikarenakan beberapa variabel utama, diantaranya adalah jumlah angkatan kerja dan keuntungan kondisi geografis.
Dalam kasus Indonesia, kedua variabel tersebut sangatlah mencolok. Indonesia merupakan negara dengan jumlah penduduk terbanyak keempat di dunia dan diprediksi akan menikmati bonus demografi (melimpahnya jumlah penduduk dengan usia produktif dibandingkan usia tidak produktif) menjelang tahun 2030.
Secara geografis, Indonesia adalah jantung dari Asia Tenggara serta merupakan jembatan perdagangan utama negara di Asia Timur.
BRIC dan MINT muncul bukan tanpa kritik sama sekali. Dalam kasus BRIC, penggunaan istilah tersebut menjadi strategi marketing tersendiri bagi keempat negara yang bersangkutan.
Lebih jauh lagi, keempat negara BRIC bahkan sudah beberapa kali mengadakan pertemuan. Ada pihak yang menduga bahwa Putin menjadi pelopor realisasi kerjasama antar negara BRIC untuk membentuk kekuatan ekonomi baru.
Belakangan Afrika Selatan juga diproyeksikan bergabung dengan BRIC menjadi BRICS, meskipun potensi kekuatan ekonominya jauh di bawah keempat negara lain. Terdapat dugaan bahwa masuknya Afrika Selatan lebih merupakan kepentingan negara BRIC, khususnya Cina, sebagai batu loncatan menuju pasar Afrika.
MINT juga memiliki versi lain, dimana bukan Nigeria yang terklasifikasi melainkan Korea Selatan (MIST).


Indonesia jangan Takabur
Meskipun diprediksi akan menempati peringkat kesembilan kekuatan ekonomi dunia pada tahun 2050, Indonesia sebaiknya tidak takabur. Saat mendeskripsikan negara BRIC, Jim O'Neill mendapati pertanyaan seputar negara-negara berkembang lain yang dianggap lebih potensial menjadi raksasa ekonomi dunia dibandingkan keempat negara BRIC.

"Meskipun diprediksi akan menempati peringkat kesembilan kekuatan ekonomi dunia pada tahun 2050, Indonesia sebaiknya tidak takabur. Saat mendeskripsikan negara BRIC, Jim O'Neill mendapati pertanyaan seputar negara-negara berkembang lain yang dianggap lebih potensial menjadi raksasa ekonomi dunia dibandingkan keempat negara BRIC"


Salah satu yang menjadi perbandingan adalah dipilhnya Rusia dibandingkan Indonesia (nama BRIC kemudian menjadi BIIC). Tanggapan atas pertanyaan tersebut harus menjadi perhatian besar bagi Indonesia.
Disebutkan bahwa Indonesia sebenarnya memiliki potensi yang sangat besar untuk menjelma menjadi raksasa ekonomi dunia di masa depan. Namun hal yang menjadi keraguan adalah kesiapan pemerintah Indonesia dalam mengelola potensi tersebut.
Contoh variabel kesiapan yang disebutkan adalah korupsi, infrastruktur, dan sumber daya manusia. Berdasarkan pemeringkatan Indeks Persepsi Korupsi yang dikeluarkan oleh Transparency International pada tahun 2014, Indonesia menempati perintgkat 107 dari 170 negara.
Keadaan infrastruktur Indonesia juga terbilang buruk. Contohnya pada infrastuktur yang berhubungan dengan konektivitas (pelabuhan, jalan raya, dan lain-lain), Indonesia bahkan masih kalah jika dibandingkan negara ASEAN lain seperti Malaysia, Singapura, dan Thailand.
Bonus demografi yang sering disebut-sebut pun dapat berubah menjadi bencana demografi jika pemerintah tidak berhasil menyeimbangkan antara banyaknya pasokan tenaga kerja dengan jumlah lapangan pekerjaan yang tersedia.
Hal terpenting yang harus disoroti adalah Indonesia akan berhasil mencapai apa yang diperkirakan akan dinimati oleh negara-negara BRIC dan MINT jika dan hanya jika pemerintah menerapkan kebijakan yang tepat dalam memanfaatkan seluruh potensi yang ada.
Jika tidak, semua hanya akan menjadi impian delusional. Kemajuan ekonomi Indonesia bukan berasal dari metode peramalan secara statistik, melainkan dari strategi kebijakan ekonomi yang efektif dan komprehensif.
Indonesia harus menapaki jalan yang sudah terlebih dahulu dilalui oleh Jepang dan sedang ditapaki oleh India dan Cina.



Sistem “Berlian” dari Keunggulan Negara
Pada dasarnya apa yang disebut sebagai keunggulan negara (mengutip dari istilah competitive advantage of nation) tidak lain adalah keunggulan perusahaan yang berasal dari negara tersebut, baik yang dimiliki oleh pemerintah maupun swasta.
Tidak masalah apakah suatu negara berhaluan kebijakan ekonomi terbuka ataupun perencanaan tersentral, selama perusahaan dari negara tersebut dapat bersaing secara global dalam arus kapitalisme dunia, dengan sendirinya negara akan mendapatkan keunggulan.
Bahkan pemerintah Cina yang setidaknya sampai saat ini masih mendeklarasikan diri sebagai Partai Komunis dapat memanfaatkan aliran investasi asing dari arus kapitalisme global.
Suatu negara tidak akan dengan sendirinya menjadi raksasa ekonomi dunia hanya dengan menjalankan kebijakan ekonomi autopilot yang memanfaatkan jumlah penduduk dan kondisi geografis.
Setidaknya tidak ada negara yang demikian sepanjang sejarah. Kalau pun ada, misalkan beberapa negara di Amerika Latin yang sempat mencapai puncak kemakmuran dari industri ekstraktif, biasanya keunggulan tersebut tidak akan bertahan lama.
Indonesia sendiri mengalaminya dalam kasus minyak bumi. Dahulu APBN menumpukan pemasukkan dari ekspor minyak bumi, namun saat ini Indonesia harus disibukkan oleh penghematan subsidi BBM yang membengkak.

"Indonesia sendiri mengalaminya dalam kasus minyak bumi. Dahulu APBN menumpukan pemasukkan dari ekspor minyak bumi, namun saat ini Indonesia harus disibukkan oleh penghematan subsidi BBM yang membengkak"


Skema “berlian” yang diajukan oleh Michael E. Porter sangat membantu untuk menganalisis bagaimana seharusnya Indonesia mempersiapkan kebijakan ekonominya. Terdapat 4 aspek penting yang perlu dipenuhi untuk menciptakan keunggulan negara, yaitu :
  • kondisi faktor pendukung (sumber daya alam, sumber daya manusia, infrastruktur, kekayaan intelektual, sumber daya modal, dan lain-lain),
  • kondisi permintaan (jumlah permintaan, jenis permintaan, dan lain-lain),
  • keadaan industri pendukung, dan
  • keadaan strategi, struktur, serta kompetitor perusahaan.
Pemerintah saat ini banyak mencurahkan perhatiannya untuk memperbaiki kondisi faktor pendukung, khususnya pada aspek sumber daya alam (SDA) dan infrastruktur.
Hal ini merupakan kabar baik mengingat SDA dan infrastruktur merupakan variabel yang tidak berpindah, tidak seperti sumber daya manusia (SDM) yang dapat “dicuri” oleh negara lain.
Masalah yang masih sangat perlu menjadi perhatian dari kondisi faktor pendukung adalah kekayaan intelektual dan sumber daya modal. Jumlah pemegang hak kekayaan intelektual di Indonesia masih sangat tertinggal, kalah jauh jika kembali dibandingkan dengan India dan Cina.
Perguruan tinggi di Indonesia, khususnya di bidang keteknikan, perlu didorong untuk dapat menghasilkan hak kekayaan intelektual selain hanya mengejar publisitas penelitian. Indonesia juga belum memiliki bank pembangunan yang secara khusus menangani proyek infrastruktur sehingga masih sering mengalami kesulitan dalam aspek pembiayaan.
Sementara itu, Indonesia selama ini banyak terbantu dari kondisi permintaan. Besarnya jumlah permintaan domestik bahkan menjadi salah satu faktor yang menyelamatkan Indonesia dari gelombang krisis ekonomi 2008.
Meningkatnya jumlah dan kemampuan kelas menengah secara otomatis mendorong permintaan yang pada akhirnya juga berdampak positif terhadap pertumbuhan ekonomi.
Dua faktor berikutnya masih sangat perlu mendapat perhatian secara khusus, yaitu keadaan industri pendukung dan keadaan strategi perusahaan. Strategi paling khas dalam membangun relasi industri pendukung adalah strategi yang ditempuh oleh India, Cina, dan Korea Selatan.

"Dua faktor berikutnya masih sangat perlu mendapat perhatian secara khusus, yaitu keadaan industri pendukung dan keadaan strategi perusahaan. Strategi paling khas dalam membangun relasi industri pendukung adalah strategi yang ditempuh oleh India, Cina, dan Korea Selatan"


Ketiganya sama-sama membangun kemampuan industri manufakturnya terlebiyh dahulu, misalnya baja dan semikonduktor. Baru setelah itu membangun industri pengolahan yang lebih tinggi, misalnya mobil, kapal, dan alat elektronik.
Selanjutnya memasuki pengembangan industri IT. Dalam konteks kebijakan four modernization yang dimiliki oleh Cina, rantai produksi ini dilanjutkan dengan pengembangan industri militer. Jepang telah menempuh strategi yang sama lebih awal.
Hasilnya, Jepang, dan kemudian disusul oleh India, Cina, dan Korea Selatan, telah menjelma menjadi negara dengan pemasok produk teknologi bernilai tambah tinggi yang diakui secara global.
Indonesia sudah melakukan strategi melengkapi industri pendukung. Hanya saja, karena dalam konteks keunggulan negara ada faktor kompetisi, Indonesia perlu melakukan akselerasi. Pelarangan ekspor bahan mineral mentah sudah merupakan langkah yang sangat tepat, hanya saja perlu ditindaklanjuti dengan kesiapan infrastruktur pengolahan mineral dan pengembangan serta konetktivitas dengan industri penggunanya.
Sayangnya, banyaknya smelter yang belum terbangun membuktikan bahwa kebijakan ini belum dijalankan secara serius. Padahal sejak berlaku UU Minerba di tahun 2009, sudah ada waktu 5 tahun untuk melakukan persiapan pembangunan.
Hal lain yang perlu menjadi perhatian adalah pembabakan dan keterhubungan rantai produksi. Indonesia harus bangga telah berhasil memproduksi pesawat buatan dalam negeri melalui PT Dirgantara Indonesia yang diinisiasi oleh B.J. Habibie.
Namun belum ada keterhubungan rantai pasok, misalnya antara industri aluminium dan industri mesin jet. Dengan industri pesawat.
Diperlukan pembangunan industri secara bertahap seperti yang telah dijelaskan sebelumnya: dari industri semikonduktor sampai industri yang memproduksi Samsung dalam konteks Korea Selatan. Bolongnya rantai produksi menyebabkan ketergantungan terhadap produk dari negara lain di suatu level produksi.
Faktor terakhir dari skema “berlian”, yaitu pengembangan strategi dan keunggulan perusahaan, menjadi isu yang paling serius. Indonesia masih banyak terjebak pada kepemilikan perusahaan: apakah sebaiknya perusahaan yang diunggulkan dimiliki oleh negara atau dimiliki oleh pihak swasta nasional.
Tidak ada rumus baku mengenai strategi ini, apakah lebih baik kebijakan ekonomi terbuka ataupun perencanaan tersentral. Pada praktiknya, biasanya negara menerapkan strategi kombinasi: negara memiliki perusahaan di industri strategis, sementara sektor lain dikelola oleh swasta nasional.
Sekali lagi, perspektif kuncinya adalah memahami keunggulan negara pada akhirnya ditentukan oleh daya saing perusahaan dari negara tersebut. Tugas negara adalah menciptakan lingkungan yang baik bagi perusahaan untuk memiliki daya saing dalam tingkat global melalui pembangunan semuua faktor dalam skema “berlian”.

"Sekali lagi, perspektif kuncinya adalah memahami keunggulan negara pada akhirnya ditentukan oleh daya saing perusahaan dari negara tersebut. Tugas negara adalah menciptakan lingkungan yang baik bagi perusahaan untuk memiliki daya saing dalam tingkat global melalui pembangunan semuua faktor dalam skema “berlian”"


Jepang misalnya, melalui Japan International Cooperation Agency (JICA) membantu perusahaan Jepang, baik nasional maupun swasta, untuk dapat memasuki dan mengembangkan pasar di negara lain.
JICA berperan ganda, yaitu menjadi rekan pemerintahan suatu negara dalam merencanakan dan kebijakan yang baik (tentunya dengan Jepang sebagai role model negara yang berhasil) sekaligus fasilitator bagi perusahaannya melebarkan sayap ke negara lain.
Jangan sampai Indonesia hanya memandang satu-satunya urusan dengan perusahaan adalah menagih pajak.



Buat Menjadi Nyata
Tulisan ini bukan ingin mengecilkan dengan mengatakan bahwa prediksi Indonesia akan menjadi raksasa ekonomi dunia merupakan hal yang keliru.
Sebaliknya, justru yang diinginkan adalah Indonesia segera menyadari potensi untuk membuat prediksi tersebut menjadi nyata sudah ada. Hanya saja, berhasil atau tidaknya sangat bergantung dari kebijakan pemerintah Indonesia dalam 30 tahun ke depan.
Penulis sendiri merasa tersindir dengan penyataan Kishore Mahbubani, bahwa rakyat Asia masih lebih percaya kemakmuran berasal dari nilai-nilai luhur yang ditunjukkan pemimpinnya di depan publik, bukan dari penerapan kebijakan yang benar.
Merasa tersindir, tapi rasa-rasanya hal itu sangat menggambarkan apa yang terjadi di Indonesia.
Dalam 30 tahun ke depan, ketika Indonesia sudah melewati usianya yang ke-100, nasib Indonesia akan dipertaruhkan. Generasi muda yang ada saat ini akan menjadi tokoh-tokoh penting di masa itu.
Sebagai bangsa yang relatif muda, apalagi dengan kemajemukan yang tinggi, rasanya sudah cukup bagi Indonesia untuk belajar dan hanya menjadi penonton dalam peta kekuatan ekonomi dunia.

"Sebagai bangsa yang relatif muda, apalagi dengan kemajemukan yang tinggi, rasanya sudah cukup bagi Indonesia untuk belajar dan hanya menjadi penonton dalam peta kekuatan ekonomi dunia"


Jepang sudah melakukannya pasca perang dunia kedua. Cina dan India menyusul setelahnya. Indonesia harus mengakselerasi diri untuk membuat prediksi menjadi nyata, bahwa Indonesia akan menjadi raksasa baru ekonomi dunia. Dalam 30 tahun ke depan atau tidak sama sekali.


2. Ramalam Indonesia



Masa Cepot (2010 s.d 2020)
Negara Indonesia sedang berada di masa transisi dan terjadi krisis identitas kebangsaan dimana Indonesia sedang berada di dua ideologi yang saling tarik menarik. Pada masa ini akan banyak peristiwa besar yang tidak hanya menimpa Indonesia tapi juga Negara dunia lain mengenai isu terorisme serta perang pendapat di segala bidang.

Masa Repot (2020 s.d 2050)
Disebut masa Repot bagi Indonesia karena Negara kita akan mengalami benturan kepentingan antar kelompok. Dan diprediksi akan terjadi perang saudara besar dan masa ini juga ditandai dengan munculnya tokoh-tokoh baru yang memiliki pikiran Neo-liberalisme dan juga Neo-Islam.

Masa Kolot (2050 s.d 2850)
Merupakan masa keemasan dimana hanya akan ada 1 pemimpin, 1 wilayah dunia, 1 undang-undang, dan 1 pemerintahan. Fase-fase kritis yang ada di Indonesia sudah melebur dengan permasalahan dunia. Lalu akan terjadi Armageddon pada masa pasca 2850 dan manusia akan kembali ke jaman batu pada masa-masa tersebut.


Semoga Indonesia kelak dimasa depan bisa menjadi negara yang maju dan sejaktera, dan sebagai anak bangsa kita seharusnya bangga serta menjadikan negara ini sebagai negara yang hebat.
HIDUP INDONESIAKU!

Yang Terjadi di Indonesia, di Masa Depan! 4.5 5 aldino sense Saya merasa khawatir dengan apa yang akan terjadi pada negara kita ini, mungkin kekhawatiran saya hanya satu dari jumlah penduduk indo...


No comments:

Post a Comment

Aldino Sense. Powered by Blogger.