• Admin
  • Pesan
  • Info Terbaru
  • Peraturan

Laporan Uji Thershold

 






ACARA II
UJI THERSHOLD

A.      Tujuan
Tujuan dari praktikum Acara II Uji Thershold adalah:
1.    Agar mamhasiswa dapat dapat menentukan nilai threshold atau ambang mutlak, ambang
pengenalan, ambang pembedaan, dan ambang batas rasa oleh sekelompok panelis (populasi).

B.       Tinjauan Pustaka
Tingkat kesukaan konsumen dapat diukur menggunakan uji organoleptik melalui alat indra. Kegunaan uji ini diantaranya untuk pengembangan produk baru. Pengujian bahan pangan tidak hanya dilihat dari aspek kimiawinya saja, tetapi juga ditilik dari cita rasa dan aroma. Uji organoleptik merupakan hasil reaksi fisikologik berupa tanggapan atau kesan mutu oleh sekelompok orang yang disebut dengan panelis. Panelis adalah sekelompok orang yang bertugas menilai sifat atau kualitas bahan berdasarkan kesan subyektif (Suradi, 2007).
Odor atau bau merupakan sifat sensoris yang unik, karena sulit diuraikan secara verbal. Odor adalah istilah untuk bau yang mengandung unsur enak dan tidka enak, apabila hanya mengandung unsur yang disukai diguakan istilah aroma. Istilah odor ini banyak di gunakan dalam produk pangan. Produk dengan odor tertentu disebabkan tidak hanya oleh satu senyawa tetapi oleh puluhan bahkan ratusan senyawa. Setiap senyawa mempunyai nilai ambang batas (thershold) tertentu untuk dapat menimbulkan sensasi. Makin rendah nilai threeshold suatu senyawa mak makin tinggi rangsangan pada indra pembau yang ditimbulkannya (Utami dkk., 2010).
Thershold testing digunakan untuk mengukur kinerja sistem terhadap sejumlah sasaran yang ditentukan terlebih dahulu. Uji ini merupakan uji lolos/gagal: dengan sistem ini pengguna mampu menyelesaikan pekerjaan x dalam waktu y detik, melakukan kesalahan rata-rata sebanyak z kali. Hal ini tidak sesuai dengan kriteria yang telah ditetapkan. Jenis uji ini biasanya menyertai beta release (Santoso, 1997).
Pengujian sensori (uji panel) berperan penting dalam pengembangan produk dengan meminimalkan resiko dalam pengambilan keputusan. Panelis dapat mengidentifikasi sifat-sifat sensori yang akan membantu untuk mendeskripsikan produk. Evaluasi sensori dapat digunakan untuk menilai adanya perubahan yang dikehendaki atau tidak dikehendaki dalam produk atau bahan-bahan formulasi, mengidentifikasi area untuk pengembangan, menentukan apakah optimasi telah diperoleh, mengevaluasi produk pesaing, mengamati perubahan yang terjadi selama proses atau penyimpanan, dan memberikan data yang diperlukan bagi promosi produk. Penerimaan dan kesukaan atau preferensi konsumen, serta korelasi antara pengukuran sensori dan kimia atau fisik dapat juga diperoleh dengan eveluasi sensori          (ebook pangan, 2006).
Faktor terpenting dalam memilih seorang panelis untuk melakukan uji sensori adalah kepekaanya. Pengujian dapat dilakukan untuk mengetahui tingkat kepekaan seseorang terhadap rasa ataupun aroma, yang terdiri dari identifikasi rasa dan aroma dasar dan ambang batas. Rangsangan penyebab timbulnya kesan dapat dikategorikan dalam beberapa tingkatan, yang disebut ambang rangsangan (thershold). Dikenal beberapa ambang rangsangan, yaitu: ambang mutlak (absolute thershold), ambang pengenalan (recognition thershold), ambang pembedaan (difference thershold), dan ambang batas (terminal thershold). Ambang mutlak adalah jumlah benda rangsangan terkecil yang sudah menimbulkan kesan, ambang pembedaan adalah perbedaan terkecil yang sudah dikenali, dan ambang batas adalah tingkat rangsangan terbesar yang masih dapat dibedakan intensitas kemampuan memberikan kesan dapat dibedakan berdasarkan kemampuan alat indera memberikan reaksi atau rangsangan yang diterima (Setyaningsih, 2010).
Faktor lain yang kemungkinan berpengaruh terhadap preferensi rasa dasar adalah gender. Gender dan status sosioekonomi berhubungan dengan preferensi rasa dan jenis produk pangan yang dikonsumsi. Secara umum diketahui juga bahwa perempuan memiliki sensitivitas yang lebih tinggi daripada laki-laki, akan tetapi pengukuran secara kuan-titatif mengenai tingkatan preferensi dan nilai ambang deteksi yang membandingkan respon dari perbedaan gen¬der belum banyak diteliti. Beberapa peneliti melaporkan bahwa faktor-faktor yag mempengaruhi ambang sensori adalah gender. Air digunakan sebagai penetral indra pencicip dan pelarut pada pengujian ambang sensori. Kebiasaan konsumsi makanan dengan kadar garam tinggi akan meningkatkan ambang rangsangan terhadap rasa asin. Dapat disimpulkan bahwa kebiasaan makan merupakan salah satu faktor yang memengaruhi ambang sensori terhadap rasa. Seluruh penetralan dalam pengujian ambang sensori dilakukan dengan berkumur dan mengeluarkan kembali air kumur tersebut, dengan tujuan menghindari kejenuhan panelis akibat terlalu banyak minum (Hasanah, 2014).
Analisis sensorik dapat dianggap sebagai ilmu interdisipliner yang menggunakan panelis manusia sebagai persepsi sensorik terkait dengan ambang batas penentuan atribut, varians dalam respon sensorik desain eksperimental individu untuk mengukur karakteristik sensorik dan penerimaan produk makanan, serta bahan lainnya. Sejak tidak ada satu instrumen yang dapat meniru atau mengganti respon psikologis dan emosional manusia, sensorik. Komponen evaluasi dari setiap studi makanan sangat penting dan pentingnya desain eksperimental yang baik tidak bisa lebih ditekankan dalam percobaan sensorik. Analisis sensorik berlaku untuk berbagai bidang seperti inspeksi bahan baku, pengembangan produk, perbaikan produk, pengurangan biaya, kontrol kualitas, pemilihan bahan kemasan, studi rak kehidupan atau penyimpanan, membangun analitis atau instrumen atau hubungan sensorik dan proses pembangunan            (Ackbarali dan Rohanie, 2014).
Solusi saham dari masing-masing senyawa disiapkan dalam absolut etanol. 10 referensi bau akhirnya diperoleh dengan menambahkan setiap solusi saham (volumenya kurang dari 0,2%) untuk pH 4,2 bir segar. Dalam semua kasus, konsentrasi akhir yang dekat dengan atau di atas ambang batang, sejauh ini adalah methional, dimethyltrisulphide, trans-2-nonenal, c-nonalaktone, furaneol dan etil butirat yang bersangkutan, konsentrasi akhir yang mirip dengan yang biasanya diukur dalam usia bir. Selama minggu pertama, dan sesi yang ditujukan untuk generasi kosakata panelis diundang untuk membandingkan bau dan aroma yang dirasakan di mulut pH 4,2 bir segar (tanpa penambahan aroma) dengan referensi 10 (dua tes per sesi satu bau mengenai dan lainnya, aroma dirasakan di mulut, lima referensi dalam setiap tes, semua referensi diuji). Minggu berikutnya adalah mungkin untuk mencapai konsistensi panelis pada penggunaan deskripsi yang dihasilkan dengan bantuan makanan atau kimia referensi. Minggu ketiga adalah mereplikasi yang pertama semua referensi diuji lagi agar jelas untuk menetapkan hal yang tepat mengenai bau dan aroma yang dirasakan di mulut untuk masing-masing senyawa. Dari solusi tersebut didapatkan hasil bahwa meningkatkan pH selama penuaan tidak memiliki pengaruh pada dimethyltrisulphide, bahkan dia hanya sebagai karakter, tapi meningkatkan kelapa terdapat catatan dan mengurangi peningkatan terkait usia dalam dua utama mati rasa, yaitu trans-2-nonenal  dan methional yang digunakan sebagai persepsi. Temuan kami tentang methional mengejutkan, karena konsentrasi senyawa ini meningkat dengan penuaan terlepas dari pH. Hal ini mungkin disebabkan karena kebingungan dari karakter yang dirasakan dengan molekul lain yang hadir pada konsentrasi tinggi ketika pH rendah (Declerck et al., 2005).
Persiapan solusi yang mudah menguap dan pemeriksaan pendahuluan dari ambang deteksi campuran senyawa dalam minuman kopi yaitu volatil solusi disiapkan dalam dietil alkohol pada konsentrasi 0,1% untuk masing-masing dari lima senyawa dengan kemurnian tinggi. Evaluasi sensorik awal dilakukan untuk memverifikasi apakah kehadiran solusi ini (etil alkohol, 2-methylpyrazine; 2-furfurylalcohol; 2,5-dimethylpyrazine; gamma-butyrolactone dan 2-furfurylacetate) dapat dideteksi dalam minuman kopi instan hitam. Delapan panelis terlatih diminta untuk memverifikasi dampak dari campuran ini sehingga tidak akan mengganggu negatif dalam aroma kopi yang khas dan rasa dari minuman. Aroma dianggap kesan yang diperoleh persepsi orthonasal dan rasa adalah efek gabungan dari aroma dan rasa persepsi. Dalam rangka untuk menentukan dampak dari solusi ini dalam minuman kopi instan hitam, tes segitiga digunakan, seperti yang dijelaskan di bagian berikut. Konsentrasi awal senyawa ini dalam minuman itu 100 ppb, dan itu diverifikasi bahwa konsentrasi ini mudah dicatat oleh campur sari (100%) campur negatif dalam aroma kopi yang khas. Akibatnya, konsentrasi volatil dalam minuman dikurangi menjadi 50, 30, dan 20 ppb Untuk tes awal, konsentrasi 20 ppb dipilih karena 50% dari campur sari melihat penambahan campuran ini pada tingkat ini, tetapi tidak ada diskriminasi terjadi. Penelitian pendahuluan ini bertujuan untuk mempersiapkan sampel di mana penambahan volatil tidak melihat sebagai tidak diinginkan. Uji segitiga diaplikasikan untuk menguji ambang campuran ditambahkan ke minuman kopi instan hitam baik dalam tes awal dan konfirmasi. Tes konfirmasi dilakukan untuk memverifikasi jika tingkat 20 ppb mewakili konsentrasi di mana ada diskriminasi terjadi ketika jumlah icip adalah 8-60. Lima puluh delapan persen dari campur sari bisa membedakan sampel hitam minuman kopi instan dengan dan tanpa campuran lima senyawa pada tingkat signifikansi p ≤ 0,01. Menimbang bahwa 50% dari campur sari bisa mengidentifikasi perbedaan ketika hanya ada delapan campur sari dan 58% ketika tim itu terdiri oleh enam puluh panelis, konsentrasi 20 ppb dalam lima senyawa dalam minuman itu dipilih untuk digunakan dalam tes penerimaan. Dalam komentar yang diberikan selama tes segitiga, banyak campur sari ditandai rasa kopi dari minuman lemah dan lain-lain berkomentar bahwa itu sulit untuk melihat perbedaan (Oliveira et al., 2009).





C.      Metodologi
1.       Alat
a.     Gelas
b.    Sendok
c.     Gelas plastik
d.    Sendok plastik
e.     Tissue
f.     Kertas borang
g.    Alat tulis
h.    Kertas label
i.      Gunting
2.      Bahan
a.     Air putih
b.    Larutan asam sitrat 0%, 0,02%, 0,04%, 0,08%, 0,16%, 0,32%, 0,64%,   1,28%
c.     Larutan garam 0%, 0,1%, 0,2%, 0,4%, 0,8%, 1,6%, 3,2%, 6,4%
d.    Larutan gula 0%, 0,5%, 1%, 2%, 4%, 8%, 16%, 32%
e.     Larutan kopi 0%, 0,1%, 0,2%, 0,4%, 0,8%, 1,6%, 3,2%, 6,4%
f.     Larutan umami 0%, 0,1%, 0,2%, 0,4%, 0,8%, 1,6%, 3,2%, 6,4%





D.      Hasil dan Pembahasan
Tabel 2.1.1 Hasil Uji Threshold Rasa Manis
Panelis
Besaran kesan pada berbagai Konsentrasi Larutan Gula (%)
0
0,5
1
2
4
8
16
32
1
0
0
X
1
1
8
2
5
2
0
0
1
2
3
3
4
5
3
0
X
X
1
1
3
4
5
4
0
X
2
3
4
4
5
5
5
0
X
X
1
2
3
4
5
6
0
X
X
1
2
3
4
5
7
0
X
X
1
1
1
2
4
8
0
X
1
2
3
4
4
5
9
0
1
1
2
3
3
4
5
10
0
X
1
2
3
4
5
5
11
0
0
X
1
2
3
4
5
12
0
0
X
1
2
3
4
5
Sumber : Laporan Sementara
Keterangan :
0    : Tidak terasa apa-apa, seperti air
x    : Berbeda dengan air,tetapi jenis rasa  belum dikenali
1    : Rasa dapat dikenali dengan lemah
2    : Sedang
3    : Kuat
4    : Sangan kuat
5    : Amat sangat Kuat
                  Berdasarkan hasil praktikum pada Tabel 2.1.1 diperoleh hasil kesan panelis pada masing-masing konsentrasi. Pada konsentrasi 0% 12 orang panelis yang memberikan nilai 0 . Pada konsentrasi 0,5% 4 orang panelis memberikan nilai 0, 1 orang panelis memberikan nilai 1, dan 7 orang panelis memberinal nilai X. Pada konsentrasi 1%,  1 orang memberikan nilai 2, 4 orang memberikan nilai 1 dan 7 orang memberikan nilai X. Pada konsentrasi 2% , 4 orang memberikan nilai 2, 7 orang memberikan nilai 1 dan 1 orang memberikan nilai 3. Pada konsentrasi 4%, 3 orang memberikan nilai 1, 4 orang memberikan nilai 2, 4 orang memberikan nilai 3 dan 1 orang memberikan nilai 4. Pada konsentrasi 8%, 1 orang memberikan nilai 1, 7 orang memberikan nilai 3 dan, 4 orang memberikan nilai4. Pada konsentrasi 16%, 2 orang memberikan nilai 2, 8 orang memberikan nilai 4, dan 2 orang memberikan nilai 5. Pada konsentrasi 32% 1 orang memberikan nilai 4 dan 11 orang memberikan nilai 5 .
Tabel 2.1.2 Transformasi Nilai x        0,5 Pada Rasa Manis
Panelis
Besaran kesan pada berbagai Konsentrasi Larutan Gula (%)
0
0,5
1
2
4
8
16
32
1
0
0
0,5
1
1
8
2
5
2
0
0
1
2
3
3
4
5
3
0
0,5
0,5
1
1
3
4
5
4
0
0,5
2
3
4
4
5
5
5
0
0,5
0,5
1
2
3
4
5
6
0
0,5
0,5
1
2
3
4
5
7
0
0,5
0,5
1
1
1
2
4
8
0
0,5
1
2
3
4
4
5
9
0
1
1
2
3
3
4
5
10
0
0,5
1
2
3
4
5
5
11
0
0
0,5
1
2
3
4
5
12
0
0
0,5
1
2
3
4
5
Jumlah
0
4,5
8,496
20,004
27
38,004
46,596
59,004
Rata-rata
0
0,375
0,708
1,667
2,25
3,167
3,883
4,917
Sumber : Laporan Sementara
Dari hasil transformasi nilai x, rata-rata larutan gula untuk konsentrasi 0%, 0,5%, 1%, 2%, 4%, 8%, 16%, dan 32% secara berurutan adalah 0, 0,375, 0,708, 1,667, 2,25, 3,167, 3,883, dan 4,917. Data tersebut menunjukkan bahwa rata-rata larutan gula pada konsentrasi 0%, 0,5%,1%, 2%, 4%, 8%, 16%, dan 32% mengalami kenaikan. Dalam hal ini panelis sudah dapat membedakan kadar gula pada konsentrasi tersebut. Setelah itu,dilakukan perhitungan untuk ambang mutlak.
Grafik 2.1.2Hubungan Konsentrasi dengan Besaran Kesan Larutan Gula

Dari hasil perhitungan dengan rumus interpolasi dan grafik, didapatkan hasil ambang mutlak dimana rata-rata konsentrasi larutan 0,5 yaitu sebesar 0,688%, nilai ambang pengenalan dimana rata-rata konsentrasi 1 yaitu sebesar 1,304%,dan nilaiambang pembedaandimana menggunakan selisih antara rata-rata konsentrasi larutanserta diambil yang terbesar. Selisih rata-rata konsentrasi terbesar terdapat pada rata-rata3,883 dan 4,917 sehingga nilai ambang pembedaan yaitu sebesar1,084pada konsentrasi larutan gula 32%. Sedangkan untuk ambang batas merupakan konsentrasi dimana rata-rata yang memiliki nilai stabil.Pada percobaan ini, tidak terdapat ambang batas karena tidak terdapat nilai rata-rata yang stabil.


Tabel 2.2.1 Hasil Uji Threshold Pada Rasa Asam
Panelis
Besaran kesan pada berbagai Konsentrasi Larutan Asam(%)
0
0,02
0,04
0,08
0,16
0,32
0,64
1,28
1
0
X
2
1
3
4
5
5
2
0
0
2
0
2
1
4
5
3
0
0
0
0
X
X
1
1
4
0
0
X
X
1
2
3
4
5
0
X
1
X
2
3
4
5
6
0
0
0
0
X
0
1
2
7
0
0
0
0
1
2
X
3
8
0
X
X
X
1
2
3
4
9
0
0
X
X
X
1
3
5
10
0
0
1
1
1
2
3
4
11
0
0
X
0
0
1
2
3
12
0
0
1
1
2
1
3
5
Sumber : Laporan Sementara
Keterangan :
0    : Tidak terasa apa-apa, seperti air
x    : Berbeda dengan air,tetapi jenis rasa  belum dikenali
1    : Rasa dapat dikenali dengan lemah
2    : Sedang
3    : Kuat
4    : Sangan kuat
5    : Amat sangat Kuat
                  Berdasarkan hasil praktikum pada Tabel 2.2.1 diperoleh hasil kesan panelis pada masing-masing konsentrasi. Pada konsentrasi 0% 12 orang panelis yang memberikan nilai 0 . Pada konsentrasi 0,02% 3 orang panelis memberikan nilai X dan9 orang panelis memberikan nilai 0.. Pada konsentrasi 0,04%,  3 orang memberikan nilai 1, 2 orang memberikan nilai 2 dan 7 orang memberikan nilai X. Pada konsentrasi 0,08% , 3 orang memberikan nilai 1, 5 orang memberikan nilai 0 dan 4 orang memberikan nilai X. Pada konsentrasi 0,16%, 1 orang memberikan nilai 0, 4 orang memberikan nilai 1, 3 orang memberikan nilai 2 dan 1 orang memberikan nilai 3 dan 3 orang memberikan nilai X.  Pada konsentrasi 0,32%, 1 orang memberikan nilai 1, 7 orang memberikan nilai 3 dan, 4 orang memberikan nilai4. Pada konsentrasi 0,64%, 2 orang memberikan nilai 1, 1 orang memberikan nilai 2, 4 orang memberikan nilai 3, 2 orang memberikan nilai 4 dan 1 orang memberikan nilai X. Pada konsentrasi 1,28%, 1 orang memberikan nilai 1, 1 orang memberikan nilai 2, 2 orang memberikan nilai 3, 3 orang memberikan nilai 4 dan 5 orang memberikan nilai 5.
Tabel 2.2.2 Transformasi Nilai x        0,5 Pada Rasa Asam
Panelis
Besaran kesan pada berbagai Konsentrasi Larutan Asam (%)
0
0,02
0,04
0,08
0,16
0,32
0,64
1,28
1
0
0,5
2
1
3
4
5
5
2
0
0
2
0
2
1
4
5
3
0
0
0
0
0,5
0,5
1
1
4
0
0
0,5
0,5
1
2
3
4
5
0
0,5
1
0,5
2
3
4
5
6
0
0
0
0
0,5
0
1
2
7
0
0
0
0
1
2
0,5
3
8
0
0,5
0,5
0,5
1
2
3
4
9
0
0
0,5
0,5
0,5
1
3
5
10
0
0
1
1
1
2
3
4
11
0
0
0,5
0
0
1
2
3
12
0
0
1
1
2
1
3
5
Jumlah
0
1,5
9
5
14,5
19,5
32,5
46
Rata-rata
0
0,125
0,75
0,417
1,208
1,625
2,708
3,833
Sumber : Laporan Sementara
Dari hasil transformasi nilai x, rata-rata larutan asam untuk konsentrasi 0%, 0,02%, 0,04%, 0,08%, 0,16%, 0,32%, 0,64%, dan 1,28% secara berurutan adalah 0, 0,125, 0,75, 0,417, 1,208, 1,625, 2,708, dan 3,833. Data tersebut menunjukkan bahwa rata-rata larutan asam pada konsentrasi 0%, 0,02%, 0,04% mengalami kenaikan, Dalam hal ini panelis sudah dapat membedakan kadar asam pada konsentrasi tersebut. Pada konsentrasi 0,08% mengalami penurunan, , Dalam hal ini panelis tidak dapat membedakankadar asam pada konsentrasi tersebut. Pada konsentrasi 0,16%, 0,32%, 0,64%, dan 1,28% mengalami kenaikan, Dalam hal ini panelis sudah dapat membedakan kadar asam pada konsentrasi tersebut. Setelah itu,dilakukan perhitungan untuk ambang mutlak.

Dari hasil perhitungan dengan rumus interpolasi dan grafik, didapatkan hasil ambang mutlak dimana rata-rata konsentrasi larutan 0,5 yaitu sebesar 0,049%, nilai ambang pengenalan dimana rata-rata konsentrasi 1 yaitu sebesar 0,153%,dan nilaiambang pembedaandimana menggunakan selisih antara rata-rata konsentrasi larutanserta diambil yang terbesar. Selisih rata-rata konsentrasi terbesar terdapat pada rata-rata 2,708 dan 3,833 sehingga nilai ambang pembedaan yaitu sebesar 1,125pada konsentrasi larutan asam1,28%. Sedangkan untuk ambang batas merupakan konsentrasi dimana rata-rata yang memiliki nilai stabil.Pada percobaan ini, tidak terdapat ambang batas karena tidak terdapat nilai rata-rata yang stabil.


Tabel 2.3.1Hasil Uji Threshold Pada Rasa Pahit
Panelis
Besaran kesan pada berbagai Konsentrasi Larutan Pahit(%)
0
0,1
0,2
0,4
0,8
1,6
3,2
6,4
1
0
X
1
1
2
3
3
5
2
0
X
0
X
1
1
4
5
3
0
X
X
1
2
2
3
4
4
0
X
1
2
X
3
4
5
5
0
X
X
1
2
2
3
4
6
0
X
X
1
2
2
4
5
7
0
X
X
1
2
3
4
5
8
0
X
1
2
3
4
5
5
9
0
1
1
2
2
3
4
5
10
0
1
X
1
2
3
4
5
Sumber : Laporan Sementara
Keterangan :
0    : Tidak terasa apa-apa, seperti air
x    : Berbeda dengan air,tetapi jenis rasa  belum dikenali
1    : Rasa dapat dikenali dengan lemah
2    : Sedang
3    : Kuat
4    : Sangan kuat
5    : Amat sangat Kuat
Berdasarkan hasil praktikum pada Tabel 2.3.1 diperoleh hasil kesan panelis pada masing-masing konsentrasi. Pada konsentrasi 0% 12 orang panelis yang memberikan nilai 0 . Pada konsentrasi 0,1% 2 orang panelis memberikan nilai 1 dan 10 orang panelis memberikan nilai X.. Pada konsentrasi 0,2%,  1 orang memberikan nilai 0, 4 orang memberikan nilai 1 dan 7 orang memberikan nilai X. Pada konsentrasi 0,4% , 6 orang memberikan nilai 1, 3 orang memberikan nilai 2 dan 1 orang memberikan nilai X. Pada konsentrasi 0,8%, 1 orang memberikan nilai 1, 7 orang memberikan nilai 2, 1 orang memberikan nilai 3 dan 1 orang nilai X.  Pada konsentrasi 1,6%, 1 orang memberikan nilai 1, 3 orang memberikan nilai 2 , 5 orang memberikan nilai 3 dan 1 orang memberikan nilai 4. Pada konsentrasi 3,2%, 2 orang memberikan nilai 1, 1 orang memberikan nilai 2, 4 orang memberikan nilai 3, 2 orang memberikan nilai 4 dan 1 orang memberikan nilai X. Pada konsentrasi 6,4%, 1 orang memberikan nilai 4 dan 6 orang memberikan nilai 5.
Tabel 2.3.2 Transformasi Nilai x        0,5 Pada Rasa Pahit
Panelis
Besaran kesan pada berbagai Konsentrasi Larutan Pahit (%)
0
0,1
0,2
0,4
0,8
1,6
3,2
6,4
1
0
0,5
1
1
2
3
3
5
2
0
0,5
0
0,5
1
1
4
5
3
0
0,5
0,5
1
2
2
3
4
4
0
0,5
1
2
0,5
3
4
5
5
0
0,5
0,5
1
2
2
3
4
6
0
0,5
0,5
1
2
2
4
5
7
0
0,5
0,5
1
2
3
4
5
8
0
0,5
1
2
3
4
5
5
9
0
1
1
2
2
3
4
5
10
0
1
0,5
1
2
3
4
5
Jumlah
0
4
6
12,5
17,5
25
38
48
Rata-rata
0
0,4
0,6
1,25
1,75
2,5
3,8
4,8
Sumber : Laporan Sementara
Dari hasil transformasi nilai x, rata-rata larutan pahit untuk konsentrasi 0%, 0,1%, 0,2%, 0,4%, 0,8%, 1,6%, 3,2%, dan 6,4%secara berurutan adalah 0, 0,4, 0,6, 1,25, 1,75, 2,5, 3,8, dan 4,8. Data tersebut menunjukkan bahwa rata-rata larutan pahit pada konsentrasi 0%, 0,1%, 0,2%, 0,4%, 0,8%, 1,6%, 3,2%, dan 6,4%mengalami kenaikan, Dalam hal ini panelis sudah dapat membedakan kadar pahit pada konsentrasi tersebut. Setelah itu,dilakukan perhitungan untuk ambang mutlak.

Dari hasil perhitungan dengan rumus interpolasi dan grafik, didapatkan hasil ambang mutlak dimana rata-rata konsentrasi larutan 0,5 yaitu sebesar 0,15%%, nilai ambang pengenalan dimana rata-rata konsentrasi 1 yaitu sebesar 0,323%,dan nilaiambang pembedaandimana menggunakan selisih antara rata-rata konsentrasi larutanserta diambil yang terbesar. Selisih rata-rata konsentrasi terbesar terdapat pada rata-rata 2,5 dan 3,8 sehingga nilai ambang pembedaan yaitu sebesar 1,3pada konsentrasi larutan gula 3,2%. Sedangkan untuk ambang batas merupakan konsentrasi dimana rata-rata yang memiliki nilai stabil.Pada percobaan ini, tidak terdapat ambang batas karena tidak terdapat nilai rata-rata yang stabil.
Tabel 2.4.1 Hasil Uji Threshold Pada Rasa Asin
Panelis
Besaran kesan pada berbagai Konsentrasi Larutan Asin(%)
0
0,1
0,2
0,4
0,8
1,6
3,2
6,4
1
0
X
1
2
3
3
4
5
2
0
0
X
0
1
2
3
4
3
0
0
X
1
2
3
4
5
4
0
X
X
1
2
3
4
5
5
0
1
2
3
4
5
5
5
6
0
0
X
1
2
3
4
5
7
0
0
1
2
4
3
4
5
8
0
X
X
1
2
3
4
5
9
0
X
X
X
1
1
2
3
10
0
0
X
1
2
3
4
5
11
0
0
X
1
1
2
3
5
12
0
X
1
2
3
4
5
5
Sumber : Laporan Sementara
Keterangan :
0    : Tidak terasa apa-apa, seperti air
x    : Berbeda dengan air,tetapi jenis rasa  belum dikenali
1    : Rasa dapat dikenali dengan lemah
2    : Sedang
3    : Kuat
4    : Sangan kuat
5    : Amat sangat Kuat
Berdasarkan hasil praktikum pada Tabel 2.4.1 diperoleh hasil kesan panelis pada masing-masing konsentrasi. Pada konsentrasi 0% 12 orang panelis yang memberikan nilai 0 . Pada konsentrasi 0,1% 1 orang panelis memberikan nilai 1 , 6 orang panelis memberikan nilai 0 dan 5 orang panelis memberikan nilai X. Pada konsentrasi 0,2%,  3 orang memberikan nilai 1, 1 orang memberikan nilai 2 dan 9 orang memberikan nilai X. Pada konsentrasi 0,4% , 6 orang memberikan nilai 1, 3 orang memberikan nilai 2 dan 1 orang memberikan nilai X. Pada konsentrasi 0,8%, 3 orang memberikan nilai 1, 5 orang memberikan nilai 2, 2 orang memberikan nilai 3 dan 2 orang memberikan nilai X.  Pada konsentrasi 1,6%, 1 orang memberikan nilai 1, 2 orang memberikan nilai 2 , 7 orang memberikan nilai 3 , 1 orang memberikan nilai 4 dan 1 orang memberikan nilai 5. Pada konsentrasi 3,2%, 1 orang memberikan nilai 2, 2 orang memberikan nilai 3, 7 orang memberikan nilai 4, 2 orang memberikan nilai 5 dan 1. Pada konsentrasi 6,4%, 1 orang memberikan nilai 3, 1 orang memberikan nilai 4 dan 10 orang memberikan nilai 10.
Tabel 2.4.2 Transformasi Nilai x        0,5 Pada Rasa Asin
Panelis
Besaran kesan pada berbagai Konsentrasi Larutan Asin (%)
0
0,1
0,2
0,4
0,8
1,6
3,2
6,4
1
0
0,5
1
2
3
3
4
5
2
0
0
0,5
0
1
2
3
4
3
0
0
0,5
1
2
3
4
5
4
0
0,5
0,5
1
2
3
4
5
5
0
1
2
3
4
5
5
5
6
0
0
0,5
1
2
3
4
5
7
0
0
1
2
4
3
4
5
8
0
0,5
0,5
1
2
3
4
5
9
0
0,5
0,5
0,5
1
1
2
3
10
0
0
0,5
1
2
3
4
5
11
0
0
0,5
1
1
2
3
5
12
0
0,5
1
2
3
4
5
5
Jumlah
0
3,5
9
15,5
27
35
46
57
Rata-rata
0
0,292
0,75
1,292
2,25
2,917
3,883
4,75
Sumber : Laporan Sementara
Dari hasil transformasi nilai x, rata-rata larutan asin untuk konsentrasi 0%, 0,1%, 0,2%, 0,4%, 0,8%, 1,6%, 3,2%, dan 6,4%secara berurutan adalah 0, 0,292, 0,75, 1,292, 2,25, 2,917, 3,883, dan 4,75. Data tersebut menunjukkan bahwa rata-rata larutan asin pada konsentrasi 0%, 0,1%, 0,2%, 0,4%, 0,8%, 1,6%, 3,2%, dan 6,4%mengalami kenaikan, Dalam hal ini panelis sudah dapat membedakan kadar asin pada konsentrasi tersebut. Setelah itu,dilakukan perhitungan untuk ambang mutlak.

Dari hasil perhitungan dengan rumus interpolasi dan grafik, didapatkan hasil ambang mutlak dimana rata-rata konsentrasi larutan 0,5 yaitu sebesar 0,145%, nilai ambang pengenalan dimana rata-rata konsentrasi 1 yaitu sebesar 0,292%,dan nilaiambang pembedaandimana menggunakan selisih antara rata-rata konsentrasi larutanserta diambil yang terbesar. Selisih rata-rata konsentrasi terbesar terdapat pada rata-rata 1,292 dan 2,250 sehingga nilai ambang pembedaan yaitu sebesar 0,958pada konsentrasi larutan asin 0,8%. Sedangkan untuk ambang batas merupakan konsentrasi dimana rata-rata yang memiliki nilai stabil. Pada percobaan ini, tidak terdapat ambang batas karena tidak terdapat nilai rata-rata yang stabil

Tabel 2.5.1Hasil Uji Threshold Pada Rasa Umammi
Panelis
Besaran kesan pada berbagai Konsentrasi Larutan Umammi(%)
0
0,1
0,2
0,4
0,8
1,6
3,2
6,4
1
0
X
1
5
2
3
4
5
2
0
2
2
3
4
4
5
5
3
0
0
1
3
4
5
5
5
4
0
0
1
2
1
3
4
5
5
0
0
X
X
0
1
4
2
6
0
1
X
2
3
2
4
5
7
0
X
2
1
2
3
4
5
8

0
X
2
1
2
4
3
5
9
0
0
0
X
X
1
1
3
10
0
3
3
3
3
4
2
4
Sumber : Laporan Sementara
Keterangan :
0    : Tidak terasa apa-apa, seperti air
x    : Berbeda dengan air,tetapi jenis rasa  belum dikenali
1    : Rasa dapat dikenali dengan lemah
2    : Sedang
3    : Kuat
4    : Sangan kuat
5    : Amat sangat Kuat
Berdasarkan hasil praktikum pada Tabel 2.5.1 diperoleh hasil kesan panelis pada masing-masing konsentrasi. Pada konsentrasi 0% 12 orang panelis yang memberikan nilai 0 . Pada konsentrasi 0,1% 4 orang memberikan nilai 4, 1 orang panelis memberikan nilai 1 , 1 orang panelis memberikan nilai 2, 1 orang panelis memberikan nilai 3 dan 3 orang memberikan nilai X. Pada konsentrasi 0,2%,  1 orang memberikan nilai 0,3 orang memberikan nilai 1 , 3 orang memberikan nilaI 2 dan 1 orang memberikan nilai 3 serta 2 orang memberikan nilai X. Pada konsentrasi 0,4% , 2 orang memberikan nilai 1, 2 orang memberikan nilai 2 , 3 orang memberikan nilai 3 , 1 orang memberikan nilai 5 dan 2 orang memberkan nilai X. Pada konsentrasi 0,8%, 1 orang memberikan nilai 0, 1 orang memberikan nilai 1, 3 orang memberikan nilai 2, 2 orang memberikan nilai 3 , 2 orang memberikan nilai 4 dan 1 orang memberikan nilai 1.  Pada konsentrasi 1,6%, 2 orang memberikan nilai 1, 1 orang memberikan nilai 2 , 3 orang memberikan nilai 3 , 4 orang memberikan nilai 4 dan 1 orang memberikan nilai 5. Pada konsentrasi 3,2%, 1 orang memberikan nilai 1, 1 orang memberikan nilai 2, 1 orang memberikan nilai 3, 5 orang memberikan nilai 4 dan 2 orang memberikan nilai 5. Pada konsentrasi 6,4%, 1 orang memberikan nilai 2, 1 orang memberikan nilai 3 , 1 orang memberikan nilai 4 dan 7 orang memberikan nilai 5.
Tabel 2.5.2 Transformasi Nilai x        0,5 Pada Rasa Umammi
Panelis
Besaran kesan pada berbagai Konsentrasi Larutan Umammi(%)
0
0,1
0,2
0,4
0,8
1,6
3,2
6,4
1
0
0,5
1
5
2
3
4
5
2
0
2
2
3
4
4
5
5
3
0
0
1
3
4
5
5
5
4
0
0
1
2
1
3
4
5
5
0
0
0,5
0,5
0
1
4
2
6
0
1
0,5
2
3
2
4
5
7
0
0,5
2
1
2
3
4
5
8
0
0,5
2
1
2
4
3
5
9
0
0
0
0,5
0,5
1
1
3
10
0
3
3
3
3
4
2
4
Jumlah
0
75
12
21
21,5
30
36
44
Rata-rata
0
7,5
1,2
2,1
2,15
3,0
3,6
4,4
Sumber : Laporan Sementara
Dari hasil transformasi nilai x, rata-rata larutan umammi untuk konsentrasi 0%, 0,1%, 0,2%, 0,4%, 0,8%, 1,6%, 3,2%, dan 6,4%secara berurutan adalah 0, 7,5, 1,2, 2,1, 2,15,3,0, 3,6, dan 4,4. Data tersebut menunjukkan bahwa rata-rata larutan gula pada konsentrasi 0%, 0,1%mengalami kenaikan, Dalam hal ini panelis sudah dapat membedakan kadar umammi pada konsentrasi tersebut. Pada konsentrasi 0,2% mengalami penurunan,mengalami kenaikan, Dalam hal ini panelis tidak  dapat membedakan kadar umammi pada konsentrasi tersebut. Pada konsentrasi  0,4%, 0,8%, 1,6%, 3,2%, dan 6,4%mengalami kenaikan, Dalam hal ini panelis sudah dapat membedakan kadar umammi pada konsentrasi tersebut. Setelah itu,dilakukan perhitungan untuk ambang mutlak.

Dari hasil perhitungan dengan rumus interpolasi dan grafik, didapatkan hasil ambang mutlak dimana rata-rata konsentrasi larutan 0,5 yaitu sebesar 0,083%, nilai ambang pengenalan dimana rata-rata konsentrasi 1 yaitu sebesar 0,1667%,dan nilaiambang pembedaandimana menggunakan selisih antara rata-rata konsentrasi larutanserta diambil yang terbesar. Selisih rata-rata konsentrasi terbesar terdapat pada rata-rata 0 dan 7,5 sehingga nilai ambang pembedaan yaitu sebesar 7,5pada konsentrasi larutan umammi0,1%. Sedangkan untuk ambang batas merupakan konsentrasi dimana rata-rata yang memiliki nilai stabil.Pada percobaan ini, tidak terdapat ambang batas karena tidak terdapat nilai rata-rata yang stabil.
Metode Threshold adalah uji yang digunakan untuk menentukan tingkat konsentrasi terendah suatu substansi yang dapat dideteksi atau perubahan konsentrasi terkecil suatu substansi yang dapat dideteksi perubahan. Disamping itu metode ini juga digunakan untuk mengenal macam-macam stimulasinya, misalnya asin,asam,manis,pahit dan umammi. Kelemahan metode ini adalah biasanya disajikan larutan suatu macam substansi. Penilaian sensorik pada manusia pula adalah biasanya disajikan larutan satu macam substansi (Soekarto, 1985).
Jenis kesan adalah kesan spesifik yang dikenali misalnya rasa manis, asin. Intensitas kesan adalah kondisi yang menggambarkan kuat lemahnya suatu suatu rangsangan, misalnya kesan mencicip larutan gula 15% dengan larutan gula 35% memiliki intensitas kesan yang berbeda. Luas daerah kesan adalah gambaran dari sebaran atau cakupan alat indra yang menerima rangsangan. Misalnya kesan yang ditimbulkan dari mencicip dua tetes larutan gula memberikan luas daerah kesan yang sangat berbeda dengan kesan yang dihasilkan karena berkumur larutan gula yang sama. Lama kesan atau kesan sesudah “after taste”adalah bagaimana suatu zat rangsang menimbulkan kesan yang mudah atau tidak mudah hilang setelah mengindraan dilakukan. Rasa manis memiliki kesan sesudah lebih rendah/ lemah dibandingkan dengan rasa pahit. Rangsangan penyebab timbulnya kesan dapat dikategorikan dalam beberapa tingkatan, yang disebut ambang rangsangan (threshold).Ambang mutlak adalah jumlah benda rangsang terkecil yang sudah dapat diidentifikasi dengan alat indera, minimal oleh 50% panelis.Ambang pengenalan adalah jumlah benda rangsang terkecil yang sudah dikenali jenisnya minimal oleh 90% panelis.Ambang pembedaan yaitu perbedaan tingkat intensitas benda rangsang terkecil yang sudah dikenali minimal oleh 90% panelis. Dan ambang batas adalah tingkat intensitas rangsangan terkecil, di atas mana kenaikan intensitas tidak lagi dapat dibedakan secara indrawi atau tingkat intensitas rangsangan terbesar, di bawah mana penurunan intensitas akan dapat dikenali (Wagiyono, 2003).
Mengidentifikasi lima karakteristik yang membedakann konsep ambang batas dari konsep-konsep lain dalam pendidikan. Salah satu karakteristik ini adalah bahwa konsep threshold menandai batas-batas disiplin tertentu. Melintasi ambang membawa sambungan baru dan pola didaerah fokus studi ke tampilan melalui lensa konseptual baru (Wright, 2012).
Garam merupakan salah satu kebutuhan yang merupakan pelengkap dari kebutuhan pangan dan merupakan sumber elektrolit bagi tubuh manusia.Walaupun Indonesia termasuk negara maritim, namun usaha meningkatkan produksi garam belum diminati, termasuk dalam usaha meningkatkan kualitasnya. Di lain pihak untuk kebutuhan garam dengan kualitas baik (kandungan kalsium dan magnesium kurang) banyak diimpor dari luar negeri, terutama dalam hal ini garam beryodium serta garam industri (Purbani, 2000).
Garam sudah digunakan oleh orang sejak dahulu kala dalam pengawetan makanan.Asam terutama asam asetat dan asam laktat terdapat dalambahan pangan sebagai asam yang ditambahkan atau sebagai hasil fermentasi dari komponen karbohidrat. Di samping sebagai bahan pengawet, asam juga dipergunakan untuk menambah rasa asam dan untuk mengurangi rasa manis. Gula dipergunakan sebagai bahan pengawet bagi banyak macam makanan. Kadar gula yang tinggi bila ditambah ke dalam bahan pangan, air dalam bahan pangan akan terikat (Muchtadi, 2008).
Aplikasi uji threshold dalam industri pangan adalah untuk menseleksi panelis atau karyawan yang akan ditempatkan dibagian quality control ataupun research and development. Aplikasi lainnya adalah apabila kita akan membuat formulasi berat untuk suatu produk dengan tingkatan konsentrasi yang berbeda maka dapat dilakukan uji threshold untuk dapat mengetahui sejauh mana konsumen mengetahui perubahan, pengenalan, pengenalan rangsangan yang berasal dari produk baru yang akan kita buat (Chang, 2000).
Uji pembedaan adalah uji yang digunakan untuk menilai adanya perbedaan atau persamaan antara dua produk atau lebih yang komoditasnya sama. Uji ini digunakan juga untuk menilai pengaruh dari berbagai perlakuan proses atau berbagai penggunaan bahan baku dalam industri pangan (makanan dan minuman). Uji pembedaan dibagi menjadi dua, yaitu uji beda dengan pembanding (acuan) dan uji beda tanpa pembanding (tanpa acuan). Uji tanpa acuan digunakan jika tujuan pengujian hanya untuk menentukan ada atau tidak ada perbedaan antara dua atau lebih contoh yang diuji.Uji beda dengan pembanding diperlukan jika tujuan pengujian untuk mengukur atau menilai pengaruh perlakuan.  Pernyataan hasil uji beda dapat berarah dan dapat tidak berarah. Perbedaan berarah misalnya lebih kecil atau lebih besar.Tidak berarah cukup dengan pernyataan ada perbedaan atau tidak ada perbedaan.Metode uji pembedaan yang umum digunakan yaitu uji pasangan (pairedcomparison), uji dua tiga (duo trio test), uji segi tiga (triangle test), uji uji pembanding ganda/ dual standart (Dembilio, 2011).
Varietas kopi Arabika yang di usahakan masyarakat sangat variatif dan ditanam bersamaan dalam satu hamparan, mengakibatkan mutu citarasa kopi Arabika organik di Bener Meriah tidak khas atau unik varietas tertentu. Oleh karena itu, varietasvarietas ini harus dipisahkan berdasarkan habitat ketinggian tempat tumbuhnya yang ideal. Selain bahan tanam atau varietas yang dibudidayakan, kopi masyarakat belum memiliki kualitas yang baik, terutama kualitas seduhannya (citarasa). Oleh karena itu perlu dilakukan penelitian uji varietas kopi Arabika di dataran tinggi Gayo, pada masing-masing ketinggian tempat pembudidayaannya (Wahyuni, 2013).

Tingkat kesukaan konsumen dapat diukur menggunakan uji organoleptik melalui alat indra. Kegunaan uji ini diantaranya untuk pengembangan produk baru. Pengujian bahan pangan tidak hanya dilihat dari aspek kimiawinya saja, tetapi juga ditilik dari cita rasa dan aroma. Uji organoleptik merupakan hasil reaksi fisikologik berupa tanggapan atau kesan mutu oleh sekelompok orang yang disebut dengan panelis. Panelis adalah sekelompok orang yang bertugas menilai sifat atau kualitas bahan berdasarkan kesan subyektif (Suradi, 2007).
Faktor terpenting untuk memilih seorang panelis adalah mengetahui tingkat kepekaannya terhadap rasa ataupun aroma, yang terdiri dariidentifikai rasa dan aroma dasar, dan ambang batas. Rangsangan penyebab timbulnya beberapa kesan dapat dikategorikan dalam beberapa tingkatan, yang disebut ambang ragsangan (thershold). Dikenal beberapa ambang rangsangan, yaitu: ambang mutlak (absolute thershold), ambang pengenalan (recognition thershold), ambang pembedaan (difference thershold), dan ambang batas (terminal thershold) (Setyaningsih, 2010).
Indera perasa merupakan indera terpenting bagi manusia. Uji inderawi seperti uji threshold dapat digunakan untuk menguji rasa dasar (manis, asin, asam, dan pahit). Untuk uji threshold biasanya digunakan sampel berupa sukrosa (manis), sodium khlorida (asin), asam sitrat (asam), dan quinine hidrokhlorid (pahit). Pada uji threshold, panelis diinstruksikan untuk menilai estimasi besarnya intensitas setiap larutan. Larutan diberikan dengan meningkatkan konsentrasi masing-masing. Panelis kemudian diminta untuk mengidentifikasi kualitas (manis, asin, asam, pahit, atau hambar) dan intensitas setiap larutan uji. Kemudian menentukan ambang pada setiap larutan (Akal et all., 2003).
Ambang sensori yaitu konsentrasi terendah yang dapat dirasakan, tidak relevan dengan sensasi rasa yang diterima seharihari. Pada umumnya persepsi hedoriik (preferensi) berada pada konsentrasi rasa di atas am bang sensori. Terdapat kemungkinan adanya keterkaitan an tara intensitas penilaian supra-threshold (di atas ambang deteksi) dengan preferensi rasa dalam pangan. Adanya kebiasaan makan bisa jadi merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi preferensi preferensi rasa dasar. Kebiasaan konsumsi makanan dengan kadar garam tinggi akan meningkatkan ambang rangsangan terhadap rasa asin. negara asal merupakan faktor terkuat yang memengaruhi preferensi terhadap keempat rasa tersebut. Sebagai contoh, anak-anak dari Jerman dan Spanyol menyukai rasa gurih dengan intensitas yang tinggi, sementara anak-anak dari Siprus dan Belgia menyukai rasa gurih dengan intensitas yang lebih rendah. Perbedaan kOl1sentrasi rasa antara tertinggi dan terendah mencapai lebih dari dua kali lipat. Nilai ambang pengenalan utnuk rasa manis di Norwegia menggunakan panelis terlatih adalah sebesar 4 g/L. Ambang pengenalan rasa pahit dari kafein menggunakan panelis terlatih di Norwegia adalah 0.14 g/L (Hasanah, 2014).
Panelis mampu mendeteksi rasa manis pada konsentrasi paling rendah 0.5% b/v. Kesalahan pada pemberian kesan oleh panelis diakibatkan panelis merasa bahwa sampel yang diberikan memiliki rasa yang sama dengan bahan pencuci rongga mulut berupa air mineral. Keadaan ini menunjukkan bahwa faktor psikologis mempengaruhi respon yang diberikan. Sebagian besar panelis tidak mampu mendeteksi sampel larutan asam pada konsentrasi 0.01% b/v. Kesalahan yang mempengaruhi besaran kesan yang diberikan oleh panelis adalah karena adanya faktor jenis kelamin. Jenis kelamin berpengaruh terhadap respon asam yang dihasilkan. Perempuan memiliki sensitivitas asam yang lebih tinggi dibandingkan laki-laki. Panelis laki-laki lebih tidak sensitif terhadap asam yang ditimbulkan oleh asam sitrat dibanding panelis perempuan (Ramadhani, 2016).
Ambang rasa anion klorida dalam air tergantung pada kation terkait. Ambang batas rasa untuk natrium klorida dan kalsium klorida dalam air berada dalam kisaran 200-300 mg/liter. Rasa kopi dipengaruhi jika dibuat dengan air yang mengandung konsentrasi klorida 400 mg/liter natrium klorida atau 530 mg/liter kalsium klorida. Konsentrasi klorida lebih dari sekitar 250 mg / liter dapat menimbulkan rasa terdeteksi dalam air, tetapi ambang batas tergantung pada kation terkait (World Health Organization, 2003).
Ambang mutlak adalah jumlah rangsangan terkecil yang sudah mulai menimbulkan kesan. Sedangkan ambang pengenalan sudah mulai dikenali jenisnya. Ambang pembedaan adalah perbedaan terkecil yang sudah mulai dikenali. Ambang batas adalah tingkat rangsangan terbesar yang masih dapat dibedakan intensitasya (Setyaningsih, 2010).
Terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi kepekaan panelis, antra lain: jenis kelamin, usia, kondisi fisiologis, faktor genetis, dan kondisi psikologis. Jenis kelamin, pada umumnya wanita lebih peka dibandingka laki-laki dalam merasakan sesuatu. Namun penilaian wanita terhadap aroma dan flavor cenderung tidak konsisten. Usia, semakin bertambahnya usia, kemampuan seseorang dalam merasa, mencium, mendengar, dan melihat akan semakin berkurang. Namun, pada kondisi tertentu dibutuhkan beberapa panelis dengan usia lanjut untuk mewakili berbagai target konsumen. Kondisi fisologis seorang panelis akan mempengarhi kepekaanya, misalkan kondisi lapar atau kenyang, kelelahan, sakit, dan lain-lain. Faktor genetis juga diketahui dapat mempengaruhi presepsi sensori seseorang, khususnya apabila  berhubungan dengan deteksi pengenalan dan ambang batas terhadap substansi tertentu. Kondisi seseorang seperti mood, motivasi, bias, tingkah laku, serta kondisi terlalu senang atau sedih dapat mempengaruhi kepekaan indra seseorang (Setyaningsih, 2010).
Uji thershold dapat digunakan untuk pengendalian mutu suatu bahan pangan. Tingkat kesukaan konsumen dapat diukur menggunakan uji organoleptik melalui alat indra. Kegunaan uji ini diantaranya untuk pengembangan produk baru. Rasa merupakan kriteria penting dalam menilai suatu produk pangan yang banyak melibatkan indra pengecap yaitu lidah. Rasa sangat dipengaruhi oleh senyawa kimia, suhu, konsistensi dan interaksi dengan komponen penyusun makanan seperti protein, lemak, vitamin dan banyak komponen lainnya (Suradi, 2007).



E.       Kesimpulan
Dari praktikum Acara II Uji Thershold yang telah dilakukan, dapat disimpilkan bahwa:
a.       Nilai ambang pada larutan gula, nilai ambang mutlaknya adalah 0,688%, ambang pengenalan 1,304%, ambang pembedaan 32% dan tidak ada ambang batas pada larutan gula.
b.      Nilai ambang pada larutan garam, nilai ambang mutlaknya adalah 0,145%, ambang pengenalan 0,292%, ambang pembedaan 0,958% dan tidak ada ambang batas pada larutan garam.
c.       Nilai ambang pada larutan asam, nilai ambang mutlaknya adalah 0,049%, ambang pengenalan 0,153%, ambang pembedaan 1,28% dan tidak ada ambang batas pada larutan asam.
d.      Nilai ambang pada larutan kopi, nilai ambang mutlaknya adalah 0,15%, ambang pengenalan 0,323%, ambang pembedaan 3,2% dan tidak ada ambang batas pada larutan kopi.
e.       Nilai ambang pada larutan umami, nilai ambang mutlaknya adalah 0,083%, ambang pengenalan 0,1667%, ambang pembedaan 0,1% dan tidak ada ambang batas pada larutan umami.



DAFTAR PUSTAKA

Ackbarali, Dimple Singh., and Rohanie Maharaj. 2014. Sensory Evaluation as a Tool in Determining Acceptability of Innovative Products Developed by Undergraduate Students in Food Science and Technology at The University of Trinidad and Tobago. Journal of Curriculum and Teaching, Vol. 3. No. 1. Page: 10-27.
Akal, Umit Kymet., Cagri Delilbasi., Tamer Yilmaz., Enis Redzep., Durdu Sertkaya. 2003. Evaluation Of Some Factors Affecting Taste Perception. Istanbul Turkey Vol. 2, No. 4.
Chang, Raymond. 2000. Kimia Dasar. Erlangga. Jakarta.
Declerck, Christine Guyot., Nancy Francois., Christian Ritter., Bernadette Govaerts., and Sonia Collin. 2005. Influence of pH and Ageing on Beer Organoleptic Properties a Sensory Analysis Based on AEDA Data. Journal of Food Quality and Preference, Vol. 16. Page: 157-162.
Dembilio, O., G.V. Tapia, M.M. Tellez, and J.A. Jacas. 2011. Lower Temperature Thresholds for Oviposition and Egg Hatching of the Red Palm Weevil, Rhychophorus Ferrugineus (Coleoptera: Curculionidae), In a Mediterranean Climate. Bulletin of Entomological Research 1 (1): 1-6.
Hasanah, Uswatun.2014. Preferensi dan Ambang Deteksi Rasa Manis dan Pahit : Pendekatan Mutikultural dan Gender. Jurnal Mutu Pangan. Vol. 1 No. 1: 1-8.
Koswara, Sutrisno. 2006. Pengujian Organoleptik (Evaluasi Sensori) Dalam Industri Pangan. Penerbit EbookPangan.com.
Muchtadi, Tien R. 2008. Teknologi Proses Pengolahan Pangan.Departemen Ilmu dan Teknologi Pangan.IPB.
Oliveira, Alessandra Lopes de., Fernando Antonio Cabral., Marcos Nogueira Eberlin., and Helena Maria André Bolini Cordello. 2009. Sensory Evaluation of Black Instant Coffee Beverage With Some Volatile Compounds Present in Aromatic Oil from Roasted Coffee. Ciencia e Tecnologia de Alimentos Campinas, Vol. 29. No. 1. Page: 76-80.
Purbani, Dini. 2000. Proses Pembuatan Kristalisasi Garam. Pusat Riset Wilayah Laut dan Sumberdaya Nonhayati. Jakarta
Rahmadhani, Rosalia, dan Kiki Fibrianto. 2016. Proses Penyiapan Mahasiswa Sebagai Panelis Terlatih Dalam Pengembangan Lexicon (Bahasa Sensori) Susu Skim Uht Dan Susu Kaya Lemak UHT. Jurnal Pangan dan Agroindustri Vol. 4 No 1 p.190-200, Januari 2016.
Santoso, Insap. 1997. Interaksi Manusia dan Komputer. Andi Offset. Yogyakarta.
Setyaningsih, Dwi., Anton Apriyanto., Maya Puspita Sari. 2010. Analisis Sensori untuk Industri Pangan dan Agro. IPB Press: Bogor.
Soekarto, Soewarno T. 1985. Penilaian Organoleptik untuk Industri Pangan dan Hasil Pertanian. Bhratara Karya Aksara. Jakarta.
Suradi, Kusmajadi. 2007. Tingkat Kesukaan Bakso dari Berbagai Jenis Daging Melalui Beberapa Pendekatan Statistik. Jurnal Ilmu Ternak Vol. 7, No. 1, Hal: 52 – 57, Juni 2007.
Utami, Indyah Sulistya., Tranggono., dan Pudjji Hastuti. 2010. Evaluasi Sensoris Odor Bubuk Merica Hitam (PipernigrumL) Penyimpanan dengan Olfaktometer Statik.  Jurnal Agritech, Vol. 25. No. 4. Hal: 195-199.
Wagiyono. 2003. Menguji Kesukaan Secara Organoleptik. Departemen Pendidikan Nasional. Jakarta.
World Health Organization. 2003. Guidelines for Drinking-water Quality. Health Criteria And Other Supporting Information Vol. 2, No. 2.
Wright, April and Paul Hibbert. 2012. Threshold Concepts In Management Education: Research, Teaching, and Learning. Journal of Management Education Special Issue, Vol.3, No. 4, Hal:125-135.


Laporan Uji Thershold 4.5 5 aldino sense ACARA II UJI THERSHOLD A.       Tujuan Tujuan dari praktikum Acara II Uji Thershold adalah: 1.     Agar mamhasiswa d...


No comments:

Post a Comment

Aldino Sense. Powered by Blogger.