• Admin
  • Pesan
  • Info Terbaru
  • Peraturan

Laporan Seleksi Panelis Menggunakan Uji Segitiga

 





ACARA I
SELEKSI PANELIS MENGGUNAKAN UJI SEGITIGA

A.  TUJUAN PRAKTIKUM
Tujuan pada praktikum acara  “Seleksi Panelis Menggunakan Uji Segitiga” adalah mahasiswa memahami cara menjadi panelis dan melakukan seleksi panelis menggunakan uji
segitiga.

B.  METODE
1.      Alat
a.    Bolpoin
b.   Borang penilaian
c.    Gelas sloki
d.   Label
e.    Nampan
f.    Pisau
g.   Tempat sampel (piring saji kecil)
h.   Tissue
2.      Bahan
a.    Air mineral sebagai penetral
b.   Roti tawar 3 buah



 C.  HASIL DAN PEMBAHASAN
1.    Hasil Penggamatan
Tabel 1.1 Tabulasi dan Analisis Data
No.
Nama Panelis
Tanggapan/Respon
Prosentase Benar (%)

Keterangan

1
2
           1.        
1
S
S
0
TL
2
S
S
0
TL
3
S
S
0
TL
4
B
S
50
TL
5
S
S
0
TL
6
S
S
0
TL
           2.        
1
B
S
50
TL
2
B
B
100
L
3
B
S
50
TL
4
B
S
50
TL
5
B
S
50
TL
6
B
S
50
TL
           3.        
1
S
S
0
TL
2
S
S
0
TL
3
S
S
0
TL
4
S
S
0
TL
5
S
S
0
TL
6
B
B
100
L
           4.        
1
S
S
0
TL
2
S
S
0
TL
3
B
S
50
TL
4
S
S
0
TL
5
B
B
100
L
6
B
S
50
TL
           5.        
1
S
S
0
TL
2
B
S
50
TL
3
S
S
0
TL
4
B
S
50
TL
5
S
S
0
TL
6
B
S
50
TL
           6.        
1
S
S
0
TL
2
B
B
100
L
3
B
S
50
TL
4
B
B
100
L
5
B
B
100
L
Sumber: Laporan Sementara
Keterangan :          B    = Benar
                               S    = Salah
                               L    = Lolos
                               TL = Tidak Lolos
Untuk Sampel yang digunakan pada praktikum acara 1 Analisis Sensori “Seleksi Panelis Menggunakan Uji Segitiga” yaitu roti tawar yang diberikan  kode yang berbeda-beda
Panelis dengan persentase benar ≥ 60% merupakan panelis yang lolos seleksi dan memiliko sensitivitas yang tinggi sehingga dapat digunakan sebagai alat ukur pengujian inderawi. Berdasarkan tabel 1.1 tabulasi uji segitiga menggunakan sampel roti tawar di dapatkan hasil pada kelompok 1 menggunakan 6 panelis dalam 2 kali respon sampel tidak ada yang melebihi persentase ≥ 60% yang artinya tidak ada panelis yang lolos. Pada kelompok 2 menggunakan 6 panelis dalam 2 kali respom sampel ada 1 panelis yang lolos. Pada kelompok 3 dengan 6 panelis dalam 2 kali respon sampel ada 1 orang paneis yang melebihi ≥ 60% artinya 1 orang panelis lolos. Pada kelompok 4 menggunakan 6 orang panelis dalam 2 kali respon ada 1 panelis yang memiliki persentase benar ≥ 60% artinya 1 orang lolos. Pada kelompok 5 menggunakan 6 orang panelis dalam 2 kali respon sampel tidak ada panelis yang persentasenya ≥ 60% artinya tidak ada panelis yang lolos. Pada kelompok 6 menggunakan 5 orang panelis dalam 2 kali respon sampel ada 3 orang panelis yang melebihi persentase benar ≥ 60% artinya 3 orang panelis lolos.
Panelis diminta untuk menilai atau mencari data hasil uji kimia. Analisis organoleptik dengan uji contoh yang berbeda diantara ketiga contoh tersebut. pembedaan segitiga dilakukan secara kualitatif untuk Panelis harus menunjukkan satu contoh yang mengetahui perbedaan kualitas atau mutu berbeda dengan menuliskan angka 1 dan apabila organoleptik garam dari tiga sampel garam yang diuji, contoh sama dituliskan angka 0. Hasil penilaiannya sedangkan analisis organoleptik dengan uji dituliskan dalam score sheet yang disediakan pembedaan duo trio dilakukan secara kualitatif pula (Rahayu, 2001).
Kehandalan dari uji triangle ini tergantung dari pengenalan sifat masing-masing mutu yang diinginkan, tingkat latihan dan kepekaan masing-masing panelis.Pada praktikum ini, digunakan panel agak terlatih yaitu mahasiswa. Menurut Soekarto (1985), panelis dalam kategori ini, mengetahui sifat-sifat sensorik dari contoh yang dinilai karena mendapat penjelasan atau sekedar latihan. Panelis untuk panel agak terlatih jumlahnya terletak diantara panelis terlatih dan panelis tidak terlatih.Jumlah itu berkisar antara 15-25 orang.Makin kurang terlatih makin besar jumlah panelis yang diperlukan.
Panelis merupakan anggota panel atau orang yang terlibat dalam penilaian organoleptik dari berbagai kesan subjektif produk yang disajikan. Panelis merupakan instumen atau alat untuk menilai mutu dan analisa sifat–sifat sensorik suatu produk. Dalam pengujian organoleptik dikenal beberapa macam panel. Pengunaan panel-panel ini berbeda tergantung dari tujuan pengujian tersebut. Panelis adalah orang yang menilai mutu atau memberikan kesan subyaktif berdasarkan prosedur pengujian sensori tertentu(Setyaningsih, 2010).
Syarat umum untuk menjadi panelis adalah mempunyai perhatian dan minat terhadap pekerjaan ini. Selain itu, panelis harus dapat menyediakan waktu khusus untuk penilaian serta mempunyai kepekaan yang dibutuhkan. Adapun kriteria pemilihan panelis berdasarkan hasil uji segitiga yang diberikan, panelis yang terpilih dapat mengenali minimal 2 kelompok sampel secara benar. Tujuan dilakukannya uji segitiga adalah untuk menentukan apakah terdapat perbedaan antara dua atau lebih produk. Selain sebagai uji pembedaan juga dapat digunakan sebagai seleksi panelis. Ketika panelis bisa memilih dengan benar sampel yang berbeda, maka panca inderanya masih normal dan sensitif sehingga memenuhi persyaratan sebagai seorang panelis (Hayati, 2012). Syarat untuk menjadi seorang panelis memiliki indra yang baik diantaranya indra penglihatan, indra penciuman, indra perasa dan indra peraba ( Prasafitra, 2014).
Uji triangel atau uji segitiga adalah suatu metode yang bertujuan untuk menetapkan apakah ada perbedaan sifat sensorik atau organoleptik antara dua contoh. Dimana terdapat tiga sampel pada uji triangel, dan dua dari tiga sampel tersebut sama. Panelis diminta untuk memilih satu diantara tiga contoh yang berbeda dari dua yang lain. Dalam uji ini tidak ada sampel baku atau sampel pembanding. Pengujian ini lebih banyak digunakan karena lebih peka daripada uji berpasangan. Dalam pengujian ini kepada masing-masing panelis disajikan secara acak tiga contoh produk dengan kode berbeda dimana dua dari ketiga produk sama. Panelis diminta memilih satu di antara tiga contoh mana yang mempunyai perbedaan.Keseragaman tiga contoh sangat penting seperti ukuran atau bentuk. Sifat contoh yang tidak sama dimiliki dari ketiga contoh tersebut dibuat sama (Soekarto, 1985).
Roti adalah produk makanan yang terbentuk dari fermentasi terigu dengan menggunakan ragi (Saccharomyces cerevisiae) atau bahan pengembang lainnya yang kemudian dipanggang (Mudjajanto dan Yulianti, 2004). Roti khususnya roti tawar menjadi salah satu pangan olahan dari terigu yang banyak dikonsumsi masyarakat. Harga yang relatif murah, menyebabkan roti tawar mudah dijangkau oleh seluruh lapisan mayarakat baik dari lapisan bawah, menengah hingga atas.
Pembedaan dalam uji triangel tidak terarah, tidak perlu disertai pernyataan sifat yang satu lebih dari yang lainnya, cukup menyatakan ada perbedaan atau tidak.Pengujian ini lebih banyak digunakan karena lebih peka daripada uji berpasangan. Dalam pengujian ini kepada masing-masing panelis disajikan secara acak tiga contoh produk dengan kode berbeda dimana dua dari ketiga produk sama. Panelis diminta memilih satu diantara tiga contoh mana yang mempunyai perbedaan.Keseragaman tiga contoh sangat penting, seperti ukuran atau bentuk. Sifat contoh yang tidak sama dimiliki dari ketiga contoh tersebut dibuat sama (Soekarto, 1985).
Uji duo-trio (dou-trio test) merupakan dimana ada 3 jenis contoh (dua sama, satu berbeda) disajikan dan para penelis diminta untuk memilih contoh yang sama dengan standar. Sedangkan uji segitiga (traingle test), yang sama seperti uji duo-trio tetapi tidak ada standar yang telah ditentukan dan panelis harus memilih satu produk yang berbada. Selain uji segitiga, terdapat jenis uji pembeda lainnya. Seperti uji duo trio yang digunakan untuk mengukur apakah terdapat perbedaan yang tidak ditentukan ada diantara sampel. Panelis disajikan sebuah sampel baku, dan sepasang sampel diminta untuk mengidentifikasi mana diantara pasangan yang sesuai dengan sampel baku. Pengolahan secara statistik untuk memperoleh jawaban benar yang diperoleh dengan pendugaan yang sama untuk uji perbandingan berpasangan (pembedaan). Hasil analisis menggunakan uji satu arah (Muresan, 2012).
Uji perbandingan jamak adalah tipe pengujian yang dirancang untuk masalah khusus, yakni standar yang disajikan tidak dapat hanya satu sampel, tetapi lebih dari satu, umumnya 3 sampai 5. Panelis diminta untuk menilai atau memilih sampel yang paling berbeda diantara sampel yang disajikan tersebut. penyajian sampel secara acak. Apabila sampel yang diuji ternyata dinilai panelis merupakan sampel-sampel yang paling berbeda diantara sampel yang disajikan berarti sampel yang diuji tersebut todak dapat dikategorikan sekelompok dengan standar (ICCRI, 2008).
Faktor-faktor yang mempengaruhi kepekaan panelis dalam uji segitiga tersebut diantaranya adalah sampel, penyaji, ruang penyajian, ruang tunggu, dan ruang pengujian. Ruang penyajian harus memilik alat-alar yang lengkap dan bersih. Ruang tunggu harus nyaman sehingga panelis yang menunggu giliran pengujian dapat menunggu dengan suasana yang nyaman. Ruang pengujian harus bersih, cahayanya bagus, dan sirkulasi udara baik. Selain itu, faktor lain yang mempengaruhi adalah menggunakan panelis agak terlatih, sampel disiapkan dengan baik terkait dengan ukuran sampel harus sama, kode sampel, dll.Aplikasi uji segitiga dalam bidang pangan bermula metode   inidikembangkan   untuk   pengendalianmutu   dan   riset,   selanjutnya   uji triangle ini lebih banyak digunakan untuk seleksi panelis (Bongartz, 2011).






D.  KESIMPULAN
Kesimpulan yang dapat diambil dari praktikum Acara I “Seleksi Panelis Menggunakan Uji Segitiga” adalah :
1.    Uji segitiga merupakan salah satu bentuk pengujian pembedaan pada uji sensoris yang dilakukan untuk mengetahui apakah terdapat perbedaan sensori antara dua produk yang telah diberi perlakuan tertentu.
2.    Dari 35 orang yang diseleksi, persentase panelis yang lolos seleksi sebesar 17,14%dan yang tidak lolos seleksi sebesar 82,86%.
3.    Syarat umum untuk menjadi panelis adalah mempunyai perhatian dan minat, panelis harus dapat menyediakan waktu khusus untuk penilaian, dan mempunyai kepekaan yang dibutuhkan.





DAFTAR PUSTAKA

Bongartz et al. 2011. Sensory Evaluation of Extra Virgin Olive Oil (EVOO) Extended to Include the Quality Factor “Harmony”. Journal of Agricultural Science and Technology A 1 (2011) 422-435.
Hayati, Rita., Ainun Marliah, dan Farnia Rosita. 2012. Sifat Kimia Dan Evaluasi Sensori Bubuk Kopi Arabika. Jurnal Floratek, Vol. 7. Banda Aceh.
ICCRI. 2008. Panduan Budidaya dan Pengolahan Kopi Arabika Gayo. Pusat penelitian Kopi dan Kakao Indonesia.
Mudjajanto, S.E. dan L.N.Yulianti. 2004. Membuat Aneka Roti. Swadaya. Jakarta.
Muresan, Crina., et al. 2012. Sensory Evaluation of Bakery Products and Its Role in Determining of The Consumer Preferences. Journal of Agroalimentary Processes and Technologies, Vol. 18, No. 4.
Prasafitra , Anggara Fajr., I Ketut Suada dan  Ida Bagus Ngurah Swacita. 2014. Ketahanan Daging Rendang Tanpa Pemasakan Ulang Selama Penyimpanan Suhu Ruang Berdasarkan Uji Reduktase dan Organoleptik. Indonesia Medicus Veterinus 2014 3(1) : 20-25.
Rahayu, W.O. Organoleptik. Jurusan Teknologi Pangan dan Gizi Fakultas Teknologi Pertanian, ITB. Bogor.
Setyaningsih, dkk. 2010. Analisis Sensori Untuk Industri Pangan dan Agro.IPB Press. Bogor.
Soekarto, Soewarno. 1985. Penilaian Organoleptik. PT. Bhratara Karya Aksara :Jakarta.





Laporan Seleksi Panelis Menggunakan Uji Segitiga 4.5 5 aldino sense ACARA I SELEKSI PANELIS MENGGUNAKAN UJI SEGITIGA A.   T UJUAN PRAKTIKUM Tujuan pada praktikum acara   “Seleksi Panelis M...


No comments:

Post a Comment

Aldino Sense. Powered by Blogger.