• Admin
  • Pesan
  • Info Terbaru
  • Peraturan

Laporan Analisis Pangan Protein

 





ACARA III
PROTEIN

A.    Tujuan
Tujuan dari praktikum acara III Protein ini adalah untuk menentukan protein total dalam bahan pangan dengan metode Kjeldahl.


B.     Tinjauan Pustaka
1.    Tinjauan Teori
Protein protein merupakan salah satu kelompok bahan makronutrien. Tidak seperti bahan makronutrien lain (lemak dan karbohidrat), protein ini berperan lebih penting dalam pembentukan biomolekul daripada sebagai sumber energi. Namun demikian apabila organism sedang kekurangan energi, maka protein ini dapat juga dipakai sebagai sumber energi.  Kandungan energi protein rata-rata 4 kilikalori/gram atau setara dengan kandungan energi karbohidrat. Keistimewaan lain dari protein ini adalah strukturnya yang mengandung N, di samping  C, H, O, (seperti juga karbohidrat dan lemak), S dan kadang-kadang P, Fe dan Cu (sebagai senyawa kompleks dengan protein) (Sudarmadji, 2010).
Protein merupakan salah satu senyawa yang berupa makromolekul, yang terdapat dalam setiap organisme, dengan karasteristik yang berbeda-beda. Makluk hidup akan selalu memerlukan protein untuk kehidupannya. Protein sendiri dibedakan dalam berbagai kelompok yang sering disesuaikan dengan fungsinya untuk kepentingan organisme yang bersangkutan. Protein yang ditemukan kadang-kadang berkonjungasi dengan makromolekul atau mikromolekul seperti lipid, polisakarida dan mungkin fosfat. Protein terkonjugasi yang dikenal antara lain nukleoprotein, fosfoprotein, metaloprotein, lipoprotein, flavoprotein dan glikoprotein. Protein yang diperlukan organisme dapat diklasifikasikan menjadi dua golongan utama, ialah pertama yaitu  protein sederhana, yaitu protein yang apabila terhidrolisis hanya menghasilkan asam amino. Protein  terkonjugasi, yaitu protein yang dalam hidrolisis tidak hanya menghasilkan asam amino, tetapi menghasilkan juga komponen organik ataupun komponen anorganik, yang disebut "gugus prosthetic" (Sumarno, 2002).
Protein adalah zat yang dibentuk oleh asam amino. protein berfungsi sebagai komponen structural utama dari otot dan jaringan lain dalam tubuh. Selain itu, protein digunakan untuk memproduksi hormone, enzim dan hemoglobin. Protein juga dapat digunakan sebagai energy, namun protein bukan pilihan utama sebagai sumber energi untuk protein yang akan digunakan oleh tubuh (Hoffman, 2004). 
Kadar protein dalam ransum/pakan dapat ditentukan dengan prosedur Kjeldahl, yaitu dengan cara menentukan jumlah nitrogen (N) yang terdapat dalam ransum, kecuali N yang berasal dari nitrat, nitrit, dan senyawa N siklik. Setelah diketahui jumlah N-nya, selanjutnya dapat dihitung kadar protein kasarnya dengan rumus ∑N% x faktor protein. Besarnya faktor protein secara umum sama dengan 6,25. Hal ini  dianggap bahwa jumlah semua N yang diperoleh berasal dari protein dan semua protein mengandung 16% N (Buwono, 2004).
Pengukuran kadar protein menurut Sudarmadji (1997) dilakukan dengan metode Kjeldahl, metode ini ada 3 tahap yaitu detruksi, destilasi, dan titrasi. Tahap destruksi diakhiri sampai semua larutan berubah menjadi jernih. Hasil destruksi kemudian dilanjutkan dengan proses destilasi. Tahap destilasi diakhiri bila semua larutan penangkap berwarna hijau. Hasil destilasi kemudian dititrasi dengan 0,1 HCL sampai terjadi perubahan warna cairan menjadi ungu. Kadar protein kemudian dihitung dengan menggunakan rumus (Wijayanti, 2013).
Pengukuran kadar protein dengan metode Kjeldahl terdapat tiga tahap yaitu yang pertama tahap destruksi. Sampel dipanaskan dalam asam sulfat ditambahkan katalisator Na2SO4 dan HgO (20:1). Penambahan katalisator menyebabkan titik didih asam sulfat tinggi sehingga destruksi berjalan lebih cepat. Kedua, tahap destilasi yaitu ammonium sulfat dipecah menjadi ammonia (NH3) dengan penambahan NaOH sampai alkalis dan dipanaskan, kemudian diberi indikator BCG + MR atau PP. Ketiga, tahap titrasi. Penampung destilasi digunakan asam borat yang bereaksi dengan ammonia dapat diketahui dengan titrasi menggunakan asam khlorida 0,1 N dengan indikator (BCG + MR) sampai perubahan warna larutan dari biru menjadi merah muda. %N = × N.HCl × 14,008 × 100 %. Setelah diperoleh %N, dihitung kadar proteinnya (Bintanah, 2014).
Metode standar untuk menentukan nitrogen organik adalah prosedur Kjeldahl, namun prosedur ini sangat rumit dan membutuhkan banyak waktu, yakni sekitar enam jam. Prosedur Kjeldahl terdiri atas beberapa langkah. Pada prosedur ini, seluruh senyawa nitrogen organik diuraikan secara kimia dan diubah menjadi amonium dengan menggunakan campuran asam sulfur, merkuri sulfat, dan potassium sulfat. Selanjutnya, ammonium dan bentukan yang baru didestilasi dengan penambahan NaOH ke dalam larutan asam borat. Kadar amonium diketahui dengan cara titrasi menggunakan asam sulfur 0,02 N. Hasil penjumlahan antara total nitrogen organik dan amonium disebut nitrogen Kjeldahl (Siregar, 2005).
Protein adalah makromolekul polimer terbuat dari blok pembangun asam amino diatur dalam rantai linear dan bergabung bersama-sama oleh ikatan peptida. Struktur primer biasanya diwakili oleh urutan huruf di atas 20 huruf alfabet yang terkait dengan 20 alami asam amino. Protein adalah blok pembangun utama dan molekul fungsional sel, mengambil hampir 20% dari berat sel eukariotik, kontribusi terbesar setelah air (70%). Protein prediksi struktur adalah salah satu masalah yang paling penting dalam biologi komputasi modern. Oleh karena itu menjadi semakin penting untuk memprediksi struktur protein dari urutan asam amino, dengan menggunakan wawasan yang diperoleh dari yang sudah diketahui struktur sekunder. Protein ditentukan oleh urutan pengklasifikasikan setiap asam amino yang sesuai struktur elemen sekunder yaitu (misalnya, alpha, beta, gamma atau)    (Mandle, 2012).
Teknik Kjeldahl merupakan metode yang umum digunakan untuk analisis protein dalam  produk makanan. Produk yang pertama dicerna, proses yang agak memakan waktu yang memerlukan sejumlah reagen. Pencernaan dilakukan dengan asam sulfat pekat dengan adanya katalis anorganik, yang mempercepat pengurangan semua yang hadir nitrogen organik menjadi garam amonium. Langkah kedua adalah pemisahan amonium dibentuk dengan menggunakan distilasi dan penangkapan amonium dengan asam lemah (asam borat). Langkah ketiga adalah kuantifikasi dari amonium dengan titrasi dengan asam kuat (asam sulfat). Meskipun metode asli Kjeldahl, mengembangkan lebih dari 100 tahun yang lalu, telah mengalami banyak modifikasi, masih memakan waktu dan rumit. Penelitian tentang modifikasi dari metode pertama difokuskan pada pencarian untuk katalis baru untuk meningkatkan laju dekomposisi; sejak saat itu banyak oksidan dan katalis harus diteliti (Rossi, 2004).
Pengukuran kadar protein menggunakan metode Mikro-Kjeldahl. Prinsip metode Kjeldahl yaitu peneraan jumlah protein secara empiris berdasarkan jumlah N di dalam bahan. Dimana hal utama yang dipersiapkan adalah label sesuai kode sampel. Lalu label ditempelkan pada dinding labu destruksi, dan ditulis juga pada labu dengan spidol permanen pada bagian tengah labu destruksi. Selanjutnya sampel basah ditimbang sebanyak 0,5 g kemudian dimasukkan dalam labu destruksi, lalu ditambahkan 0,5 g katalisator (selenium reagent mixture), 10 ml H2SO4 pekat bebas N dengan berat jenis 1,84. Kemudian sampel didestruksi dalam ruang asam selama 1-1,5 jam (sampai warna cairan menjadi jernih) dengan api kecil, misalnya pemanas (kompor gas) dimatikan, lalu ditunggu ± 15 menit sampai labu dingin. Selanjutnya isi labu destruksi dipindahkan ke dalam labu destilasi (erlenmeyer volume 1 l). erlenmeyer ditutup dengan penyumbat karet. Labu destruksi dibilas dengan aquades. Pembilasan dilakukan 3 kali , dimasukkan aquades bilasan dengan corong ke dalam labu destilasi lewat saluran (tabung reaksi bertutup yang telah dimodifikasi) pada penyumbat labu destilasi. Total aquades yang digunakan untuk membilas 100 ml. 40 ml NaOH 45% dimasukkan ke dalam labu destilasi. Saluran kaca ditutup dan penutup dikencangkan dengan baik. Erlenmeyer 100 ml yang berisi 5 ml asam borat 4% (jenuh) disiapkan dan telah ditetesi 2 tetes indikator MR-MB (campuran 2 bagian metil merah 0,2% dalam alkohol dan 1 bagian metilen blue 0,2% dalam alkohol) sebagai penangkap. Ujung kondensor dicelupkan ke dalam asam borat. Setelah kondensor siap, kran air pendingin dibuka. Sumber pemanas pada alat destilasi dinyalakan (kompor listrik pada posisi 300 watt). Destilasi dilakukan sampai volume destilat pada erlenmeyer menacapai 40 ml. Pada saat volume destilat mencapai ± 35 ml kondensor diangkat sehingga ujung kondensor tidak lagi menyentuh cairan penangkap. Cairan hasil proses destilasi dititrasi dengan HCl 0,1 N, sampai terjadi perubahan warna cairan. Blangko dibuat dengan jalan destilasi 100 ml aquades ditambah 40 ml NaOH 45%. Hasil destilasi ditangkap dengan 5 ml asam borat (Hanifa, 2013).
Kadar protein dalam makanan sebagian besar ditentukan atas dasar total nitrogen. Metode Kjeldahl hamper secara umum diterapkan untuk menentukan kandungan nitrogen total, kemudian dikalikan dengan faktor untuk sampai pada protein. Pendekatan ini didasarkan pada asumsi bahwa hamper semua nitrogen dalam makanan ada dalam bentuk asam amino di dalam protein. Analisis asam amino dianggap cara yang lebih ilmiah benar tentang menentukan protein. Kandungan protein dihitung sebagai jumlah dari amino residu asam (Total asam amino dikurangi massa yaitu air 18g / mol asam amino) (Magomya, 2014).
Kualitas nutrisi suatu protein bahan pangan ditentukan oleh kesesuaian antara jenis dan jumlah asam amino yang terkandung dengan jenis dan jumlah asam amino yang dibutuhkan dan mendorong untuk dilakukannya pengembangan metoda analisis asam amino. Pengembangan berbagai teknik kromatografi memungkinkan penyususunan cara estimasi kadar protein dalam suatu bahan secara instrumental melalui penetapan kadar asam amino, sebagai hasil hidrolisis protein dalam bahan itu (Sumarno, 2002).
2.    Tinjauan Alat dan Bahan
Buret merupakan alat kimia yang biasanya digunakan dalam titrasi yakni sebagai tempat larutan standar sekunder. Buret adalah sebuah peralatan gelas laboratorium berbentuk silinder yang memiliki garis ukur dan sumbat keran pada bagian bawahnya. Ia digunakan untuk meneteskan sejumlah reagen cair dalam eksperimen yang memerlukan presisi, seperti pada eksperimen titrasi. Buret sangatlah akurat, buret kelas A memiliki akurasi sampai dengan ± 0,05 cm3 (Udaibah, 2014).
Erlenmeyer pada kultur jaringan dipergunakan untuk tempat dan sarana menuangkan air suling maupun untuk tempat media dan penananman eksplan. Ukuran Erlenmeyer bermacam-macam dari volume 50 ml, 100 ml, 200 ml, 250 ml sampai 2 liter. Untuk keperluan tempat media tanam, biasanya menggunakan ukuran maksimum volume 250 ml, tergantung dari macam eksplan yang ditanam. Harga Erlenmeyer tergplong mahal, karena terbuat dari pirex (tahan panas) padahal untuk menenam eksplan membutuhkan Erlenmeyer yang jumlahnya banyak (Daisy, 1994).
Gelas ukur dipakai untuk menakar air suling dan bahan kimia yang akan digunakan. Ukuran gelas ukur bermacam-macam mulai dari volume 250 ml. jenis gelas ukur ada yang tahan panas (dari pirex) dan ada yang tidak tahan panas (dari gelas biasa) (Daisy, 1994).  
Natrium tiosulfat merupakan senyawa kimia yang bekerja dengan mekanisme percepatan eliminasi. Dalam tubuh sulfur persulfida akan berikatan dengan sianida diubah menjadi senyawa yang tidak toksik yaitu tiosianat. Natrium tiosulfat memiliki jendela ketoksikan yang lebih besar dibandingkan dengan narium nitrit (Suudah, 2015).
Protein kedelai memiliki keeratan dengan protein hewani daripada protein nabati lainnya. Protein kedelai merupakan sumber total padatan sebesar 40% dan berperan yang sangat penting dalam pengayaan berbasis sereal. Kedelai juga merupakan sumber yang kaya vitamin, mineral dan serat kasar yang relatif rendah. Kedelai merupakan salah satu sumber protein, yang bila digunakan sebagian pengganti atau pelengkap tepung terigu dalam produksi produk roti seperti biskuit, roti dan gula-gula lain bisa lebih meningkatkan status gizi produk tersebut (Okeye, 2008).
Protein yang terdapat pada kedelai telah digunakan secara luas dalam bahan makanan seperti pada sifat fisik, kimia dan sifat fungsional serta nilai gizi. Protein kedelai yang tersedia untuk industri makanan dalam bentuk konsentrat tepung bubur dan isolat dengan isi protein masing-masing 40% - 50%, 70% dan 90% atau lebih. Protein ini, ketika ditambahkan ke berbagai makanan, pasokan yang digunakan sebagai sifat, fungsional seperti emulsifikasi, penyerapan lemak, kelembaban penahan, penebalan dan berbusa. Namun, informasi pada sifat fungsional tepung kedelai diperkaya dengan protein kedelai yang diperlukan dalam pemanfaatan meningkat sebagai komponen makanan. Oleh karena itu, tujuan dari penelitian ini adalah untuk menyelidiki pengaruh suplementasi terhadap protein kedelai pada sifat fungsional tepung kedelai (Ali, 2012).

C.    Metodologi
1.    Alat:
a.    Buret
b.    Destilator
c.    Erlenmeyer
d.   Gelas Ukur
e.    Labu Destilasi
f.     Labu Destruksi (Labu Kjeldahl)
g.    Lemari asam
h.    Neraca Analitik
i.      Pemanas Listrik
j.      Pipet Tetes
k.    Pipet Volume 1 ml dan 10 ml
l.      Propipet
2.    Bahan:
a.    Aquades
b.    Cerelac
c.    Larutan H2SO4 Pekat
d.   Indikator MRMB
e.    Larutan Asam Borat 4%
f.     Larutan HCl 0,08 N
g.    NaOH Na-tiosulfat
h.    Promina
i.      Tablet Kjeldahl
j.      Tepung Kedelai



D.    Hasil dan Pembahasan
Tabel 3.1 Penentuan Kadar Protein
Sampel
Berat Sampel (gram)
ml Titrasi Sampel
N HCl
FK
% Protein (wb)
Cerelac
0,201
5,1 ml
0,08 N
5,7
16,19%
Promina
0,239
4,0 ml
0,08 N
5,7
10,685 %
Tepung Kedelai
0,213
0 ml
0,08 N
5,7
0%
Sumber: Laporan Sementara
Protein merupakan salah satu kelompok bahan makronutrien. Tidak seperti bahan makronutrien lain (lemak dan karbohidrat), protein ini berperan lebih penting dalam pembentukan biomolekul daripada sebagai sumber energi. Namun demikian apabila organism sedang kekurangan energi, maka protein ini dapat juga dipakai sebagai sumber energi.  Kandungan energi protein rata-rata 4 kilikalori/gram atau setara dengan kandungan energi karbohidrat. Keistimewaan lain dari protein ini adalah strukturnya yang mengandung N, di samping  C, H, O, (seperti juga karbohidrat dan lemak), S dan kadang-kadang P, Fe dan Cu (sebagai senyawa kompleks dengan protein) (Sudarmadji, 2010).
Analisis protein dalam bahan pangan dapat dilakukan dengan dua metode yaitu metode kuantitatif dan kualitatif. Analisis protein secara kualitatif adalah analisis yang bertujuan untuk mengetahui ada atau tidaknya protein dalam suatu bahan pangan. Analisis kualitatif dapat dilakukan dengan reaksi Xantoprotein, reaksi Hopkins-Cole, reaksi Millon, reaksi Nitroprusida dan reaksi Sakaguchi. Sedangkan analisis protein secara kuantitatif adalah analisis yang bertujuan untuk mengetahui kadar protein dalam suatu bahan pangan. Analisi kuantitatif protein dapat dilakukan dengan metode Kjeldahl, metode titrasi formol, metode Lowry, metode spektrofotometri visible (Biuret) dan metode spektrofotometri UV.
Pada praktikum kali ini akan dilakukan penentuan kadar protein dalam bahan pangan dengan menggunakan metode Kjeldahl. Analisis protein ini dapat menentukan tingkat kualitas protein apabila dipandang dari sudut gizi serta menelaah protein yang merupakan salah satu bahan kimia secara biokimia, fisiologis, reologis dan enzimatis.
Metode Kjeldahl merupakan metode yang sederhana untuk penetapan nitrogen total pada asam amino, protein dan senyawa yang mengandung nitrogen. Cara Kjeldahl digunakan untuk menganalisis kadar protein kasar dalam bahan makanan secara tidak langsung karena senyawa yang dianalisisnya adalah kadar nitrogennya. Dengan mengalikan hasil analisis tersebut dengan faktor konversi 6,25 diperoleh nilai protein dalam bahan makanan tersebut. Prinsip kerja dari metode Kjeldahl adalah protein dan komponen organik dalam sampel didestruksi dengan menggunakan asam sulfat dan katalis. Hasil destruksi dinetralkan dengan menggunakan larutan alkali dan melalui destilasi. Destilat ditampung dalam larutan asam borat. Selanjutnya ion- ion borat yang terbentuk dititrasi dengan menggunakan larutan HCl (Sudarmadji, 1989).
Pada praktikum ini, sampel yang digunakan adalah Cerelac, Promina dan tepung kedelai. Untuk sampel Cerelac didapatkan kadar protein sebesar 16,19% . Sedangkan menurut data yang terdapat pada klaim  kemasan  yaitu sebesar 15%. Hal ini tidak sesuai dengan teori disebabkan oleh ikut teranalisisnya komponen- komponen lain seperti purina, pirimidina, asam amino besar, kreatina dan vitamin- vitamin sebagai nitrogen protein (Sudarmadji, 1989). Untuk sampel Promina didapatkan kadar protein sebesar 10, 685% sedangkan menurut data yang terdapat pada klaim  kemasan  yaitu sebesar 15%. Kemungkinan perbedaan tersebut disebabkan oleh kelemahan metode Kjeldahl yang memiliki ketelitian rendah. Dan untuk sampel tepung kedelai didapatkan kadar protein sebesar 0% sedangkan menurut teori Sunardiyanto (2013), kadar protein tepung kedelai yaitu sebesar 30,7%. Hal ini sangat menyimpang dikarenakan  human error  atau kesalahan pada saat proses destilasi yang kemingkinan pada saat proses destilasi sampel yang seharusnya belum sepenuhnya berubah menjadi kuning bening namun proses destilasi sudah diakhiri, sehingga ammonium sulfat belum terpecah semuanya menjadi amonia. Selain itu penentuan kadar protein total (N yang terkandung) kurang tepat dan kemungkinan banyanya N yang hilang selama proses.






Tabel 3.2  Data Pengamatan Perubahan Warna
Sampel
Berat Awal (gram)
Warna Sebelum Destruksi
Warna Setelah Destruksi
Warna Sebelum Destilasi
Warna Setelah Destilasi
Warna Sebelum Titrasi
Warna Setelah Titrasi
Cerelac
0,201
Orange
Kuning
Hitam Pekat
Bening
Kuning
Merah Muda
Promina
0,239
Orange
Kuning
Hitam Pekat
Bening
Hijau
Merah Muda
Tepung Kedelai
0,213
Orange
Kuning
Hitam Pekat
Bening
Ungu
-
Sumber: Laporan Sementara
Berdasarkan Tabel 3.2 didapatkan data sampel Cerelac, Ceremix dan tepung kedelai. Warna sebelum destruksi yaitu orange dan warna setelah destruksi yaitu kuning. Warna sebelum destilasi hitam pekat dan warna setelah destilasi bening, ketiganya memiliki warna yang sama dari proses destruksi hingga destilasi. Namun, saat proses titrasi warna yang dihasilkan sebelum titrasi untuk sampel Cerelac yaitu kuning, sampel Promina Hijau dan sampel tepung kedelai ungu. Warna setelah titrasi untuk sampel Cerelac dan Promina adalah merah muda.
Pengukuran kadar protein dengan metode Kjeldahl terdapat tiga tahap yaitu:
a.    Tahap Destruksi. Pada tahap ini, sampel dipanaskan dalam asam sulfat pekat sehingga terjadi destruksi menjadi unsur-unsurnya. Elemen karbon (C) dan hidrogen (H) teroksidasi menjadi karbon monoksida (CO), karbondioksida (CO2), dan air (H2O). Elemen Nitrogen akan berubah menjadi amonium sulfat. Banyaknya asam sulfat yang digunakan untuk destruksi diperhitungkan terhadap kandungan protein, karbohidrat dan lemak.
b.    Tahap Destilasi . Pada tahap destilasi, amonium sulfat dapat dipecah menjadi amonia, yaitu dengan penambahan larutan NaOH sampai alkalis dan dipanaskan. Amonia yg dibebaskan ditangkap oleh larutan asam. Asam yg dapat dipakai adalah H2SO4. Agar kontak antara larutan asam dengan amonia berjalan sempurna, maka ujung selang


c.    pengalir destilat harus tercelup kedalam larutan asam. Destilasi diakhiri jika semua amonia sudah terdestilasi sempurna menggunakan indikator mengsel sebagai indikator penunjuk.
d.   Tahap Titrasi. Apabila penampung destilat yang digunakan adalah larutan asam sulfat, maka sisa asam sulfat yang tidak bereaksi dengan amonia dititrasi dengan NaOH 0,025 N menggunakan indikator mengsel (indikator campuran metil red dan metil blue). Selisih jumlah titrrasi sampel dan blanko merupakan jumlah nitrogen.
% Protein (wb) = ml titrasi x N HCl x 0,014 x FK  x100%
       Berat Sampel
Setelah diperoleh % N selanjutnya dihitung kadar proteinnya dengan mengalikan % N dengan suatu faktor konversi. Besarnya faktor konversi nitrogen tergantung pada persentase nitrogen yang menyusun protein dalam bahan pangan yg dianalisa tersebut. Akhir titrasi ditandai dengan tepat perubahan warna larutan  menjadi merah muda dan tidak hilang selama 30 detik bila menggunakan indikator PP           (Sudarmadji, 2010).
            Pada praktikum kali ini kelompok 6 mendapatkan sampel tepung kedelai. Tahap pertama yang harus dilakukan yaitu menimbang bahan sebanyak 0,2 g ke dalam labu Kjeldahl. Kemudian menambahakan tablet Kjeldahl sebanyak kurang lebih 1 g. Setelah itu, ditambahkan H2SO4 sebanyak 10 ml kedalam ruang asam dilanjutkan untuk melakukan proses pendestruksian sampel hingga warnanya berubah menjadi hijau bening. Destruksi sampel bertujuan untuk mempercepat reaksi dan hidrolisis protein menjadi unsur C, H, O, N, S dan P.
Pada sampel Cerelac dan Promina dengan berat awal sebesar 0,201 gram dan 0,239 gram, warna sebelum di destruksi yaitu orange dan setelah di destruksi menjadi kuning. Sedangkan untuk sampel tepung kedelai dengan berat sampel 0,213 gram, warna sebelum di destruksi yaitu orange dan setelah di destruksi menjadi kuning.
Reaksi kimia yang terjadi dalam  proses destruksi yaitu:
HgO + H2SO4                         HgSO4 + H2O
 2HgSO4                                  Hg2SO4 + SO2 + 2On
Hg2SO4 + 2H2SO4                  2HgSO4 + 2 H2O + SO4
(CHON) + On + H2SO4                             CO2 + H2O ­+ (NH4)2SO4 + SO2
(Sudarmaji, 2010).
           


E.     Kesimpulan
Berdasarkan praktikum acara III  Protein yang telah dilakukan didapatkan kesimpulan sebagai berikut:
1.    Protein merupakan salah satu senyawa yang berupa makromolekul, yang terdapat dalam setiap organisme, dengan karasteristik yang berbeda-beda.
2.    Metode Kjeldahl merupakan metode yang sederhana untuk penetapan nitrogen total pada asam amino, protein dan senyawa yang mengandung nitrogen.
3.    Analisis kadar protein menggunakan metode Kjeldahl dibagi menjadi tiga tahap, yaitu tahap destruksi, tahap destilasi dan tahap titrasi.
4.    Kadar protein yang didapat untuk sampel Cerelac sebesar 16,19%, untuk sampel Promina sebesar 10,685% dan tepung kedelai diperoleh sebesar 0%.
5.    Kadar protein berdasarkan teori/klaim kemasan yaitu untuk sampel Cerelac sebesar 15%, sampel Promina sebesar 15% dan untuk sampel tepung kedelai sebesar 30,7%.  




DAFTAR PUSTAKA
Ali, Maha A. M., Abdullahi H. El Tinay1., Abd Elmoneim O., Elkhalifa., Limya O. Mallasy1 And Elfadil E. Babiker1. 2012. Effect of Different Supplementation Levels of Soybean Flour on Pearl Millet Functional Properties. Journal International of Food And Nutrition Sciences, Vol. 3, No. 1, Hal: 1.
Bintanah, Sufiati Dan Erma Handarsari. 2014. Komposisi Kimia dan Organoleptik Formula Nugget Berbasis Tepung Tempe dan Tepung Ricebran. Indonesian Journal of Human Nutrition, Vol. 1, No.1, Hal: 63-64.
Buwono, Ibnu Dwi. 2004. Kebutuhan Asam Amino Esensial dalam Ransum Ikan. Yogyakarta: Kanisius.
Daisy, P., Sriyanti Hendaryono dan Ari Wijayani. 1994. Teknik Kultur Jaringan. Yogyakarta: Kanisius.
Hanifa, R., A. Hintono Dan Y.B. Pramono. 2013. Kadar Protein, Kadar Kalsium, dan Kesukaan Terhadap Cita Rasa Chicken Nugget Hasil Substitusi Terigu dengan Mocaf dan Penambahan Tepung Tulang Rawan. Jurnal Pangan dan Gizi, Vol. 04, No. 08, Hal: 55-56.
Hoffman, Jay R.  And Michael J. Falvo. 2004. Protein Which Is Best. Journal Of Sports Science And Medicine, Vol. 3, No. 6, Hal: 118-119.
Humaidah, Siti. 2011.  Potensi Desikator Untuk Inkubator Anaerob. Jurnal Ilmu Pengetahuan Alam, Vol. 1, No.1, Hal: 1.
Magomya, A.M., D. Kubmarawa., J.A Ndahi And G.G Yebpella. 2014. Determination Of Plant Proteins Via The Kjeldahl Method And Amino Acid Analysis: A Comparative Study. International Journal of Scientific & Technology Research, Vol. 3, No. 4, Hal: 68.
Mandle, Anil Kumar., Pranita Jain and Shailendra Kumar Shrivastava. 2012. Protein Structure Prediction Using Support Vector Machine. International Journal on Soft Computing ( IJSC ), Vol.3, No.1, Hal: 67.
Mayasopha, Anantya Yhodha., Fitria Herfianita dan Aji Sutrisno. 2015. Aplikasi Enzim Transglutaminase pada Produk Pangan: Kajian Pustaka. Jurnal Pangan dan Agroindustri, Vol. 3, No. 3, Hal: 1147.
Okoye., Nkwocha., Ogbonnaya. 2008. Production, Proximate Composition and Consumer Acceptabillityof Biscuit from Wheat or Soybean Flour Blend. Journal Food Science and Technology, Vol. 2, No. 6, Hal: 13.
Rossi, A.M., Villarreal, M., Juárez, M.D And Sammán, N.C. Nitrogen Contents in Food: A Comparison Between The Kjeldahl and Hach Methods. The Journal Of The Argentine Chemical Society, Vol. 92, No. 4, Hal: 100.
Siregar, Sakti A. 2005.  Instalasi Pengolahan Air Limbah. Yogyakarta: Kanisius.
Sudarmadji, Slamet., Bambang Haryono dan Suhardi. 2010. Analisa Bahan Makanan dan Pertanian. Yogyakarta: Liberty Yogyakarta.
Sumarno., Sri Noegrohati., Narsito Dan Iip Izul Falah. 2002. Estimasi Kadar Protein dalam Bahan Pangan Melalui Analisis Nitrogen Total dan Analisis Asam Amino. Jurnal Farmasi Indonesia, Vol. 13, No. 1, Hal: 34-35.
Suudah, Evi Noor., Chinthia Sari Yusriana., Trisna Dewi N. 2015. Uji Efektifitas Ketepatan Waktu Pemberian Kombinasi Natriun Nitrit sebagai Antidotum Ketoksikan Akut Kalium Sianida pada Mencit. Jurnal Permata Indonesia, Vol. 6 No.1, Hal: 21-28.
Udaibah, Wirda. 2014.  Analisis Pengetahuan Calon Guru Kimia Tentang Peralatan Laboratorium dan Fungsinya. Jurnal Phenomenon, Vol. 4, No.1, Hal: 70.
Wijayanti, D. A., A. Hintono dan Y. B. Pramono. 2013.  Kadar Protein dan Keempukan Nugget Ayam dengan Berbagai Level Substitusi Hati Ayam Broiler. Animal Agriculture Journal, Vol. 2. No. 1, Hal: 295 – 300.






Lampiran Perhitungan

Analisa Perhitungan Kadar Protein (wb)
Rumus Umum :
% Protein (wb) = ml titrasi x N HCl x 0,014 x FK  x100%
         Berat Sampel
a.       Sampel Cerelac
% Protein (wb)    = 5,1 x 0,08 x 0,014 x 5,7  x 100%
                                        0,201
                        = 0,0325 x 100%
                            0,201
= 16,19%
b.      Sampel Promina
% Protein (wb)    = 4,0 x 0,08 x 0,014 x 5,7  x 100%
                                       0,239
                        = 0,0255 x 100%
                            0,239
                        =10,685%
c.       Sampel Tepung Kedelai
% Protein (wb)    = 0 x 0,08 x 0,014 x 5,7  x 100%
                0,213
          = 0%



Laporan Analisis Pangan Protein 4.5 5 aldino sense ACARA III PROTEIN A.     Tujuan Tujuan dari praktikum acara III Protein ini adalah untuk menentukan protein total dalam...


1 comment:

  1. Permisi, izin salin sebagian tulisannya untuk tugas kuliah ya.
    Terimakasih banyak.

    ReplyDelete

Aldino Sense. Powered by Blogger.