• Admin
  • Pesan
  • Info Terbaru
  • Peraturan

Laporan Hasil Praktikum Fisika Dasar Kalorimetri

 



Pada Kesempatan Kali ini Saya akan membagikan Laporan Hasil Praktikum Fisika Dasar Kalorimetri. Semoga bisa membantu anda dalam menyelesaikan laporan anda. 



ACARA I
KALORIMETRI

A.  TUJUAN
Tujuan Praktikum Dasar Fisika Acara I sebagai berikut :
1.      Mahasiswa dapat menentukan nilai kapasitas panas jenis (c) suatu larutan tertentu dengan menggunakan asas Black.
2.      Mahasiswa dapat memahami hubungan Asaz Black terhadap percobaan kalorimeter.
3.      Mahasiswa dapat memahami prinsip kerja kalorimeter dan fungsinya.

B.  TINJAUAN PUSTAKA
Kalor adalah energi termal yang berpindah dari suatu system (atau kumpulan elektron, ion, atau atom) pada suatu temperatur kesuatu system lain mengalami kontak (bersentuhan) dengannya, tetapi berada pada temperatur yang lebih rendah. Satuan SI-nya adalah Joule. Satuan-satuan lain yang digunakan untuk panas adalah kalori digunakan oleh para ahli gizi disebut kalor besar (Bueche,2006).
Kalor jenis suatu zat adalah banyaknya kalor yang diserap atau diperlukan oleh 1 gram zat untuk menaikkan suhu sebesar 1ºC atau kemampuan suatu benda untuk melepas atau menerima kalor (Gincoli,1997).
Bahan yang dipindahkan dari atau ke suatu sistem diukur di dalam alat yang dinamakan Kalorimmetri , yang terdiri dari sebuah wadah cuplik yang kecil yang dibenamkan dalam sebuah benjana air luar yang besar. Prinsip kerja kalorimeter benjana luar itu disekat dengan baiak sekali di sebelah luar untuk menghalangi bahan kamar mencapai air sedangkan wadah di dalam dibuat dari tembaga atau suatu bahan penghantar bahang yang lain untuk mengizinkan bahang secara manual diperlukan antara wadah itu dengan air.
        Gambar 1.1 Sebuah kalorimeter
Wadah dalam menyelimuti sistem yang akan diukur, dan air dikeliling wadah itu. Tidak ada usaha dikerjakan oleh sistem atau lingkungan, sebagai akibatnya perubahan suhu lingkungan (air) hanyalah karena bahang yang diperlukan antara air dan sistem .Perubahan suhu ini diukur menggunakan termometer, dan bahang yang dipertukarkan dihitung dari massa dan bahan jenis air yang diketahui (Prawirosusanto,2004).
Kalor yang diperlukan untuk menaikkan suhu benda bergantung pada 3 faktor yaitu : massa benda, jenis benda dan besarnya kenaikkan suhu.
1.      Massa benda, semakin besar masssa benda maka kalor yang diterima untuk distribusian menambah tenaga molekul atau atom menjadi lebih banyak. Jika semakin besar massa benda maka diperlukan lebih banyak kalor untuk menaikkan suhu bila dibanding benda bermassa kecil. Hal ini ditandai oleh lambatnya kenaikkan suhu pada benda bermassa besar.
2.      Jenis benda, benda terbentuk memiliki massa jenis tertentu sehingga jumlah atom atau molekul pergramnya juga tertentu. Tenaga untuk menaikkan suhu 1ºC pada 1 kg air sebesar 5 kali dibanding alumunium. Dikatakan air memiliki kapasitas untuk menyerap dan menyimpan kalor 5 kali lebih besar dibanding alumunium.
3.      Kenaikkan suhu, kalor yang diperlukan untuk menaikkan suhu benda sebesar 10ºC senilai dengan 10 kali yang diperlukan untuk menaikkan suhu 1ºC, pada massa dan jenis benda yang sama.
Jelaslah pada peristiwa kenaikan suhu benda karena benda mendapat kalor jenis, mengenal tetapan baru yang bergabung pada benda. Tetapan itu disebut kapasitas kalor jenis (Priyambodo,2004).
Sebuah kuantitas erat kaitannya dengan kapasitas kalor molar adalah kapasitas kalor jenis ,C. Ini adalah kalor yang diperlukan untuk perubahan satu saatuan temperatu di dalam satu massa dari suatu zat. Kapasita kaor jenis itu dihubungkan kepada c oleh
Disini M adalah massa dari 1 mol. Dinyatakan di dalam c, kalor diperlukan suatu perubahan temperatur ΔT di dalam suatu massa adalah
                   Q = m c ΔT
Karena C bergantung pada temperatur, maka persamaan ini hanyalah eksak untuk T yang sangat kecil. Akan tetapi, seperti halnya rumus ekspansi termal, rumus itu biasanya memadai untuk nilai-nilai T yang besar jika kapasitas kalor jenis rata-rata digunakan (Ramelan,1996).
Perpindahan kalor ada 3 cara, yaitu konduksi, konveksi dan radiasi. Perpindahan kalor secara konduksi lebih cepat dibanding cara konveksi, sedangkan perpindahan kalor memalui radiasi paling lambat dibanding cara aliran yang lain. Konduksi kalor biasanya bermedium padat dan perpindahan kalor disebabkan oleh perpindahan tenaga getar atom ke atom tetangganya. Adapun konveksi kalor biasa terjadi pada medium cair dan udara, yang dicirikan oleh berpindahnya atomatau molekul pembawa kalor (Priyambodo,2004).
Berdasarkan prinsip perpindahan kalor, banyak sekali manfaat di dalam bidang pangan di aplikasikan sebagai pengering suatu bahan makanan karena dengan pengeringan mikroba pada makanan akan mati dan tidak tumbuh, dan sebagai penggoreng bahan makanan  (Giancoli,1997)

C.  METODE PENELITIAN
1.    Alat
a.       Kalorimeter.
b.      Termometer.
c.       Timbangan.
d.      Pemanas Air.
2.    Bahan
a.       Air.
b.      Larutan Kopi.
c.       Larutan Garam.
3.    Cara Kerja
a.    Perlakukan penimbangan massa kalorimeter terlebih dahulu,
b.    Pencampuran air dengan larutan yang dicari nilai kapasitas panas jenisnya (c),
c.    Penentuan nilai dari kapasitor panas jenis (c) air, massa air, dan suhu awalnya,
d.   Penentuan massa dan suhu larutan (nilai kapasitas panas jenis (c) larutan belum diketahui dan dicari setelah dicampurkan dengan air dan suhunya telah relative stabil,
e.    Pencampuran , perlu diperhatikan bahwa bahan yang lebih rendah suhunya dimasukan lebih dahulu ke dalam kalorimeter, baru kemudian bahan yang lebih panas dimasukan,
f.     Pencatatan suhu akhir yang telah stabil,
g.    Pencarian nilai kapasitas panas jenis (c) larutan berdasarkan Asas Black,
h.    Pengulangan percobaan diatas untuk mendapatkan data yang akurat
Catatan : di dalam percobaan ini ada beberapa asumsi yang dipakai yaitu
a.    Tidak ada energi panas yang masuk ataupun keluar dalam pencampuran (sistem),
b.    Massa termometer tidak berpengaruh pada proses pencampuran larutan di atas.

DAFTAR PUSTAKA
Baranauskiene, Lina., Vilma Petrikaite., Jurgita Matuliene., dan Daumantas Matulis. 2009. Titration Calorimetry Standards and The Precision of Isothermal Titration Calorimetry Data. Internasional Jurnal Molecular Sciences.
Bueche, Frederick J., dan Eugene Hecht.2006. Fisika Universitas. Jakarta : Erlangga.
Burtovyy, Ruslan., Binyamin Rubin., Mahmut., Kesimci., Igor Luzinov., Jeffery Owens., dan Konstantin G Kornev. 2012. Surface Differential Scanning Calorimeter for Evaluation of Evaporative Cooling Efficiency. Journal of Engineered Fiber and Fabrics.
Cromer, Alan H.2004. Fisika Untuk Ilmu-ilmu Hayati.Yogyakarta : Gadjah  Mada University Press.
Giancoli, Douglas C. 1997. Fisika Jilit 1. Jakarta:Erlangga.
Nurul, A.1. dan Azura, A. 2012. Differential Scanning Calorimetry As Tool in Observing Thermal and Storage Stability of Recombinant Bromelain. International Food Research Jornal 19.
Priyambodo, Tri Kuntoro.2003. Fisika Dasar Untuk Mahasiswa Ilmu Komputer. Yogyakarta:Andi Yogyakarta.
Ramelan, Ari Hanadono., Nur Her Riyadi Parnanto., dan Kawiji. 1996. Fisika Pertanian. Surakarta:Sebelas Maret University Press.
Setiyanto.2004. Analisis Karakteristik Dinamik Kalorimeter Gamma Mini. Prosiding Seminar Hasil Penelitan P2TRR.
Tazi, Imam., dan Sulistiana.2011.Uji Kalor Bahan Bakar Campuran Bioetanol dan Minyak Goreng Bekas. Jurnal Neutrino Vol. 3, No. 2.
LAMPIRAN
 
Gambar 1
Gelas Beaker yang sudah di isi larutan

Gambar 2
Menungangkan Larutan Garam ke gelas ukur

Laporan Hasil Praktikum Fisika Dasar Kalorimetri 4.5 5 aldino sense Pada Kesempatan Kali ini Saya akan membagikan Laporan Hasil Praktikum Fisika Dasar Kalorimetri. Semoga bisa membantu anda dalam menyele...


No comments:

Post a Comment

Aldino Sense. Powered by Blogger.