• Admin
  • Pesan
  • Info Terbaru
  • Peraturan

KUNCI BISNIS SUKSES YANG JARANG DIKETAHUI

 

 

1. Mulai dengan paradigma berdagang atau berjualan produk orang lain

Kalau bicara bisnis, ngomongin startup, atau menjadi entrepreneur, yang ada di benak sebagian besar kita (karena saya dulu begitu) adalah: bikin produk sendiri yang keren, punya kantor/PT sendiri, punya kemampuan teknis lalu melayani klien, dan sejenisnya. Ternyata paradigma saya memulai bisnis pertama kali dengan model seperti di atas itu salah. Saya pernah menulis bahwa saya sangat tertampar oleh teman-teman saya yang membuka bisnis berdagang/berjualan produk orang lain.
Padahal, berdagang juga adalah merupakan bisnis, dengan cara yang paling sederhana: ambil barang dari supplier, tambahkan keuntungan, jual lagi. Saking sederhananya, ini bisa dilakukan oleh yang belum punya modal uang banyak, belum punya ilmu/pengalaman bisnis, dan belum network bisnis.
Saya tekankan: Kalau kamu merasa pengetahuan/ilmu bisnis kamu masih sedikit, lebih baik bikin bisnis berdagang dulu aja, dan ikuti langkah selanjutnya yang berdasarkan paradigma membuka bisnis yang berjualan atau berdagang produk orang lain.
Bikin produk sendiri? Nanti aja kalau sudah jago berbisnis.

2. Observasi sekeliling kita, tentukan marketnya & cari apa kebutuhan mereka

Langkah berikutnya adalah memulai dari market atau pasar atau siapa yang kita targetkan akan membeli produk kita. Jangan mulai dari “produk apa yang bagus ya” tapi mulailah dari “siapa mau beli produk apa ya“. Produk bagus tapi nggak ada yang beli, percuma toh?
Di langkah ini kita tinggal melihat sekeliling kita, lalu lihat kesamaan mereka dalam hal kebutuhan mereka yang mendesak. Paling mudah ya benar-benar lingkungan terdekat kita, misalnya di sekitar kantor. Lalu kita merasakan bahwa teman-teman kita di kantor itu butuh banget cemilan tapi malas keluar kantor. Atau kita punya grup ‘gosip’ di BBM/WhatsApp isinya (buat cewek2 nih), dan tentu saja mereka suka belanja baju/sepatu.
Berarti, target market kita adalah orang-orang kantoran, dengan masalah/kebutuhan makan ringan/cemilan untuk menemani kerja. Atau di contoh kedua, target marketnya cewe-cewe muda 20an tahun, dengan kebutuhan baju & sepatu.

3. Cari supplier, lalu uji market tersebut dengan menjual berbagai produk (atau dari berbagai merek)

Langkah berikutnya adalah mencari supplier alias siapa yang menjual produk tersebut untuk kita jualkan lagi. Bagaimana cara mencari supplier? Nggak susah kok, gunakan Google! Cari saja dengan keyword ’reseller <produk xxx>‘ atau ‘dropship <produk xxx>‘ atau ‘agen <produk xxx>‘ atau ‘distributor <produk xxx>‘. Di Kaskus sendiri sudah ada sub-forumnya: Penawaran Kerjasama, BO, Distribusi, Reseller, & Agen.
Kalau ada beberapa pilihan supplier untuk satu produk yang sama/sejenis, kita tinggal membanding-bandingkan saja mana yang meyakinkan, mana yang pelayanannya bagus, dan sebagainya. Dalam proses mencari supplier dan membeli di mereka, kita akan merasakan pengalaman berjualan & berbelanja sekaligus. Jadi, kalau kita masih awam banget dengan cara berjualan/berbisnis termasuk melayani pelanggan, kita bisa meniru cara supplier dalam berjualan dan kita melayani kita sendiri. Kalau bahasanya Pak @andisboediman, kalau mau mulai membuat toko online, mulailah dengan jadi pembeli.
Satu hal yang perlu diperhatikan, jangan jual satu jenis produk saja (misalnya satu jenis snack atau satu rasa saja), karena kita belum tahu mana yang disukai pasar. Kita lebih suka berbelanja di toko yang pilihannya lengkap bukan?
Beberapa produk bisa dibeli dengan cara dropship, artinya kita tidak usah menyetok barang. Kita tinggal menjual produk dari supplier, lalu kalau ada pembeli yang menransfer ke kita, kita baru membeli ke supplier. Supplier akan mengirimkan langsung barang ke pembeli kita atas nama kita sendiri. Ini memungkinkan kita mulai berjualan benar-benar dengan modal uang nol karena tidak perlu membeli terlebih dahulu. Umumnya yang begini ada dalam kategori fashion.

4. Apabila market & produknya tepat, akan ada repeat buyer/customer, dan kita bisa melihat perilaku mereka, produk apa yang paling laris

Kalau kita merasa sudah promosi maksimal tapi nggak ada yang beli, berarti produk itu nggak tepat untuk target market yang kita pilih, atau target marketnya terlalu sempit sehingga sedikiiiit banget yang mau beli. Kita bisa revisi target market atau revisi produk yang kita jual.
Tapi kalau produk yang kita pilih itu  tepat dengan target market yang sudah kita tentukan, akan ada pembelian demi pembelian terjadi. Kalau kita puas berbelanja di suatu toko/warung, kita tentu akan belanja lagi di sana dan menjadi langganan mereka bukan? Begitu pula di bisnis kita, fokus kita haruslah menjaga pelanggan agar tetap loyal dan membeli lagi (jadi repeat buyer/customer). Soalnya, mencari pelanggan baru itu jauh lebih sulit dibandingkan dengan mempertahankan pelanggan lama.
Setelah ada repeat buyer, kita pasti bisa tahu pola pembelian mereka bukan? Kita bisa tahu produk apa yang paling mereka sukai, apa komentar mereka terhadap produk-produk kita, dsb. Nah, pada tahap ini, kita bisa mulai memilih, mana di antara produk-produk kita yang paling laris dan menyumbang penjualan terbanyak.
Kita bisa menghentikan atau mengurangi penjualan produk-produk yang tidak terlalu laku, untuk..

5. Fokus di produk paling laris tersebut dan NAIK LEVEL, dari jualan eceran menjadi distributor (jualan ke reseller)

Saatnya naik kelas, dari menjadi reseller untuk jualan eceran ke orang per orang, menjadi distributor/supplier untuk jualan ke reseller. Ada perubahan strategi harga di sini yang memberikan kita untung lebih sedikit per produknya aja, tapi secara keseluruhan jadi JAUUH lebih menguntungkan buat kita.
Jika harga produk eceran misalkan Rp. 50ribu dan kita membeli di supplier harganya Rp.30ribu, kita dapat untung Rp. 20ribu per produk. Kalau kita sudah jadi distributor, harga beli kita secara grosir ke produsen misalnya Rp. 20ribu, dan kita jual Rp. 30ribu. Untungnya jadi cuma  Rp. 10ribu per produk.
Kalau jualan eceran, katakanlah kita bisa menjual 100 barang per bulan, artinya keuntungan kita Rp 20ribu x 100 = Rp 2 juta per bulan. Kalau kita jual ke reseller, dan 1 reseller menjual 100 barang per bulan, keuntungan kita jadi cuma Rp 10ribu x 100 = Rp 1 juta per bulan. Tapii, bagaimana kalau kita punya 2 reseller? Jadi Rp 2 juta per bulan kan? Kalau 5? Kalau 10? Punya reseller ibarat punya cabang. Pasar yang dijangkau bisa jauh lebih luas dibandingkan jualan dari satu toko aja.
Keuntungan lain dari jualan ke reseller adalah jumlah orang yang kita layani akan berkurang. Saat jual eceran, buat dapet untung Rp 2 juta per bulan, kita harus melayani hingga 100 orang pembeli (asumsi @ membeli 1 produk). Tapi untuk mendapatkan untung Rp 10 juta per bulan, kita cuma perlu melayani 10 orang pembeli (ya para reseller itu).
Di fase ini, kita harus membeli stok dalam jumlah banyak (produsen biasanya punya syarat minimal jumlah pembelian kan). Tapi kita jangan takut produk kita nggak terjual, karena kan kita sudah membuktikan produk yang kita stok banyak ini memang yang paling laris.

6. Ulangi lagi untuk jenis produk atau market yang baru

Selesai, pada titik ini, bisnis penjualan kamu sudah bisa berjalan sendiri dengan adanya karyawan yang membantu, dan kamu bisa mengulang langkah ini untuk membuka bisnis yang baru dengan market yang baru .

SEMOGA BERMANFAAT

KUNCI BISNIS SUKSES YANG JARANG DIKETAHUI 4.5 5 aldino sense   1. Mulai dengan paradigma berdagang atau berjualan produk orang lain Kalau bicara bisnis, ngomongin  startup , atau menjadi  entrep...


No comments:

Post a Comment

Aldino Sense. Powered by Blogger.